Respons Kasus Anak SD Bunuh Diri di NTT Karena Tak Mampu Beli Alat Tulis, Menkes Siapkan Layanan Psikologi Klinis
- Tangkapan layar
Jakarta, tvOnenews.com - Merespons kasus anak SD bunuh diri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tak mampu membeli alat tulis, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut pihaknya sedang menyiapkan layanan psikologi klinis.
Dia mengatakan layanan tersebut akan disiapkan di puskesmas-puskesmas.
"Kesehatan mental anak memang kita sudah lakukan skrining. Ada 10 juta anak yang berisiko (terkena penyakit mental). Sekarang saya mau menyiapkan ada psikologi klinis di masing-masing puskesmas supaya penyakit-penyakit jiwa yang selama ini enggak tertangani di rumah sakit bisa ditangani di puskesmas," ujar, Rabu (4/2/2026).
Dia menyadari kasus kesehatan mental pada anak masih belum mendapatkan perhatian maksimal.
Oleh karenanya, saat ini pemerintah tengah berupaya memasukkan pemeriksaan kesehatan mental pada anak melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG).
"Sebelumnya kita enggak tahu ada masalah kejiwaan pada anak. Melalui skrining, kita sudah tahu ada 10 juta. Itu harus ditangani dengan menaruh psikolog klinis di puskesmas yang bekerja sama dengan sekolah supaya bisa diobati secara preventif dan promotif," ungkapnya.
Untuk diketahui, anak berinisial YBR (10) memilih untuk mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026).
Dia melakukannya diduga karena tak mampu membeli alat tulis, yakni buku dan pena seharga Rp10 ribu.
Saat dievakuasi, ditemukan juga sepucuk surat yang YBR tulis untuk ibunya. Berikut adalah isi suratnya:
Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis atau mencari saya
Selamat tinggal Mama. (ant/nsi)
Load more