Paradoks Pemberantasan Narkoba di Indonesia: Operasi BNN Meningkat, Jaringan Justru Semakin Kuat
- tvOnenews.com/Rika Pangesti
Jakarta, tvOnenews.com – Komisi III DPR RI menyoroti paradoks dalam upaya pemberantasan narkoba di Indonesia.
Di satu sisi, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat peningkatan signifikan dalam operasi penindakan.
Namun di sisi lain, jaringan narkoba justru dinilai semakin kuat dan meluas, termasuk melibatkan sindikat internasional serta jaringan di lembaga pemasyarakatan (lapas).
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi III DPR RI, Habib Aboe Bakar Al-Habsyi, dalam rapat kerja bersama BNN di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026).
Ia mengaku mengapresiasi capaian kerja BNN, tetapi ia juga mempertanyakan dampak nyata dari penindakan yang dilakukan.
“Saya jujur bangga ya ini prestasi tapi ingat pak, ada yang menyakitkan, kok ada BNN makin banyak pemain narkobanya pak? Ini perlu diperhatikan. Sikat habis pak pemain narkoba ini,” ujar Habib Aboe.
Habib Aboe juga menyoroti masih kuatnya jaringan narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas). Ia menilai peredaran narkoba di lapas bukan lagi isu baru.
Menurutnya, fenomena ini harus ditangani secara serius dengan membongkar aktor utama di baliknya.
“Dan jaringan di lapas itu pak, mengerikan dan harus benar-benar cari induk pemainnya di dalam. Saya ketemu orang yang pengalaman di lapas, bohong itu kalau tidak ada dan sandiwaranya itu cantik sekali pak. Silakan kerja sama dengan lapas,” bebernya.
Meski demikian, Habib Aboe mengakui capaian BNN dalam paparan kinerja patut diapresiasi. Ia menyebut sepanjang 2025, BNN telah melakukan ratusan operasi penindakan.
“Jika dilihat di paparan, capaiannya sangat bagus ada 773 operasi penindakan. Dan hasilnya enggak main-main, ada 63 jaringan narkoba yang digulung, saya kira ini patut diapresiasi,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat lengah. Berdasarkan paparan BNN, terdapat puluhan jaringan narkoba internasional yang masih aktif dan menjadikan Indonesia sebagai sasaran.
“Namun di sisi lain pak, kita harus waspada ya, apalagi di slide tersebut dilaporkan ada 56 narkoba internasional, jadi internasional ini bermain pak di Indonesia. Memang makanan empuk Indonesia ini,” ucapnya.
Habib Aboe menilai kondisi itu menjadi pertanda serius bahwa Indonesia tengah disasar sebagai pasar narkoba internasional. Hal ini terlihat dari besarnya jumlah barang bukti yang berhasil disita aparat.
“Ini adalah pertanda Indonesia sedang disasar sebagai market narkoba internasional. Apalagi di situ dipaparkan bahwa jumlah yang disita enggak main-main. Seperti sabu sampai 4,01 ton, ton pak enggak main-main pak. Ganja lebih dari 2 ton. Ini jumlah yang sangat besar,” tegasnya.
Dalam rapat tersebut, Habib Aboe juga menyinggung soal ketegasan penegakan hukum terhadap bandar narkoba. Ia menilai publik jarang melihat aktor utama yang benar-benar dihukum berat.
“Saya belum lihat ini pemain-pemain yang ditangkap yang ditampilkan di TV mukanya dijembreng mukanya gitu. Kalau perlu kelihatan pemainnya, jangan ada kongkalikong pak,” katanya.
Selain soal penindakan, Komisi III DPR juga menyoroti aspek anggaran dan sarana pendukung pemberantasan narkoba.
Habib Aboe mempertanyakan usulan pengadaan sarana drug signature analysis senilai Rp55,74 miliar yang hampir menyerap seluruh anggaran bidang laboratorium.
“Apakah alat ini mampu mendeteksi profil jaringan sindikat internasional secara automatic pak? Dan apakah alat ini sudah mampu mengidentifikasi varian new psychoactive substances yang baru masuk ke Indonesia?” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan kemampuan laboratorium BNN dalam mendeteksi bahaya penyalahgunaan gas nitrous oxide atau Whip Pink yang belakangan marak di kalangan remaja.
“Nah tabung ini kayaknya lebih nge-tren pak di kalangan remaja. Whip Pink ya, bermain dan semakin di daerah semakin gila pak ya, apalagi di penjara. Kayaknya perlu ada penindakan tegas karena sangat membahayakan,” kata Habib Aboe.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, turut menyoroti modus baru peredaran narkoba yang dinilai semakin kreatif. Ia menyinggung tabung Whip Pink yang kerap disalahgunakan dan bahkan diberi label halal.
“Apalagi di Whip Pink itu di tabungnya ada tulisan halal,” ujar Abdullah dalam rapat tersebut.
Abdullah menilai, meski gaya hidup anak muda saat ini mulai bergeser ke arah yang lebih positif, seperti olahraga. Namun, ancaman narkoba tetap mengintai dengan cara-cara baru.
“Sedangkan dengan gaya hidup anak muda sekarang sudah mengalami pergeseran, biasanya di nightclub sekarang di padel lari itu hal positif sebenarnya. Tapi di luar itu jenis-jenis narkoba yang masuk itu lebih kreatif dan lebih bermacam-macam caranya,” katanya.
Ia bahkan menceritakan adanya anggapan keliru di masyarakat terkait Whip Pink.
“Ada cerita lucu teman-teman, tanya anak-anak ini apa? Ini buat praktikum bikin kue. Padahal baru kebongkar ternyata Whip Pink memang betul buat bikin kue, gas ketawa lah, tapi baru viral sekarang,” ucapnya.
Menurut Abdullah, kondisi ini menuntut dukungan anggaran yang memadai agar upaya pemberantasan narkoba berjalan efektif dan tidak setengah-setengah.
“Ketika butuh anggaran pegangannya harus jelas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya mewakili PKB sangat mendorong, apalagi anggaran hanya segini kalau bisa lebihin lagi pak,” katanya.
Ia menegaskan, peredaran narkoba saat ini menjadi ancaman serius bagi kualitas generasi muda Indonesia.
“Karena memang secara sistematis generasi muda kita lagi diserang, men-downgrade kecerdasan bangsa dengan narkoba,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto memaparkan capaian kinerja lembaganya sepanjang 2025.
Ia menyebut BNN telah mengungkap 773 kasus tindak pidana narkoba dan psikotropika, termasuk membongkar 63 jaringan peredaran terorganisir.
“Capaian di bidang pemberantasan yaitu pertama kami telah mengungkap 773 kasus tindak pidana narkoba dan psikotropika, termasuk di dalamnya membongkar 63 jaringan peredaran terorganisir yang terdiri dari 56 jaringan sindikat narkotika nasional dan 7 jaringan sindikat internasional,” ujar Suyudi.
Dari pengungkapan tersebut, BNN mengamankan 1.214 tersangka dan menyita berbagai barang bukti narkotika dalam jumlah besar.
“BNN telah menyita sejumlah barang bukti narkotika di antaranya sabu seberat 4,01 ton, 2,19 ton ganja, 2,06 ton ganja sintesis, pil ekstasi sebanyak 365 ribu butir, kokain seberat 4,7 kilogram serta ketamin seberat 1,2 ton,” terang Suyudi.
Selain itu, BNN juga memusnahkan ladang ganja di berbagai wilayah.
“BNN juga telah memusnahkan 12,78 hektare ladang ganja pada 14 operasi dengan berat tanaman ganja basah mencapai 109,8 ton atau 224.500 batang,” pungkasnya. (rpi/rpi)
Load more