Purbaya soal Presiden Venezuela Ditangkap AS: Hukum Dunia Agak Aneh, PBB Lemah
- Syifa Aulia
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran dengan Amerika Serikat (AS) yang melakukan operasi penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Kondisi tersebut menurut Purbaya, mencerminkan hukum dunia yang semakin aneh. Dia juga menyoroti peran dan pengawasan PBB yang lemah.
"Hukum dunia agak aneh sekarang. Jadi kalau kita lihat negara bisa nyerang negara lain yang berdaulat, dan seperti bisa gate away dari pengawasan PBB. PBB-nya lemah sekarang," ucap Purbaya kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin, 5 Januari 2026.
Meski begitu, Purbaya melihat kondisi Amerika Serikat dan Venezuela tidak akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Termasuk ke pasar saham dan nilai tukar rupiah.
Sejauh ini, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sangat positif di tengah konflik Amerika Serikat dan Venezuela.
"Kalau saya lihat sih agak jauh. Kalau anda lihat pasar saham kan malah naik kan, jadi mereka melihat justru sedikit positif kan, agak aneh sebenarnya. tapi itu yang dilihat pasar," tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasukannya telah melancarkan serangan skala besar ke Venezuela.
Trump juga mengumumkan bahwa Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dibawa ke luar Venezuela.
Jaksa Agung AS Pamela Bondi mengatakan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, akan segera menjalani persidangan di Pengadilan Distrik Selatan New York.
Trump juga mengatakan pihaknya bakal mengelola kilang minyak Venezuela usai menangkap Nicolas Maduro di Caracas pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Ia menyatakan bahwa Amerika akan “menjalankan” Venezuela untuk sementara waktu setelah serangan militer AS berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam konferensi pers, menyusul operasi militer besar yang dilakukan Amerika Serikat di Venezuela pada Minggu 4 Januari 2026.
Trump mengatakan Amerika akan mengelola Venezuela hingga tercapai transisi kekuasaan yang aman, tertib, dan dianggap sah. Ia juga menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan minyak besar asal Amerika Serikat akan masuk ke Venezuela untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang selama ini disebutnya rusak dan tidak produktif.
Trump menilai industri minyak Venezuela telah lama mengalami kegagalan pengelolaan. Ia menyebut perusahaan minyak AS akan menginvestasikan miliaran dolar untuk memperbaiki fasilitas produksi dan distribusi, sekaligus menghidupkan kembali sektor energi negara tersebut. Trump mengklaim langkah ini akan menghasilkan keuntungan bagi rakyat Venezuela dan juga Amerika Serikat.
Venezuela sendiri memiliki cadangan minyak mentah yang sangat besar, sekitar 303 miliar barel, atau hampir 20 persen dari total cadangan minyak dunia. Hal ini menjadikan negara tersebut sebagai salah satu target strategis dalam kebijakan energi global Amerika.
Namun hingga kini belum jelas bagaimana mekanisme Amerika Serikat dalam “menjalankan” Venezuela. Trump hanya menyebut bahwa pengelolaan sementara akan dilakukan oleh sebuah kelompok, tanpa merinci siapa saja yang terlibat. Ia mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah melakukan komunikasi dengan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez.
Trump mengklaim Rodríguez bersedia melakukan apa pun yang diminta Amerika Serikat. Pernyataan ini langsung dibantah oleh Delcy Rodríguez melalui siaran televisi pemerintah Venezuela. Ia menegaskan bahwa Nicolás Maduro tetap merupakan satu-satunya presiden sah Venezuela dan pemerintah siap mempertahankan kedaulatan negara.
Yeni Lestari/VIVA
Load more