Pengembangan Infrastruktur Pasar Karbon Indonesia Kian Strategis, Terhubung ke Jaringan Global
- Istockphoto
“Pasar karbon kini bergerak menuju sistem yang mengaitkan aksi lingkungan langsung dengan nilai ekonomi. Infrastruktur yang kuat dibutuhkan agar negara-negara kaya karbon dapat terhubung dengan modal institusional global secara efisien dan transparan,” ujar Wook Lee dalam sesi pembukaan konferensi.
Pada hari kedua konferensi, diskusi berlanjut dengan pembahasan kerangka regulasi pasar karbon Indonesia, perkembangan proyek Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS), serta potensi kerja sama pasar karbon trilateral antara Indonesia, Korea, dan Jepang. Topik-topik ini dinilai krusial untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem pasar karbon internasional.
Konferensi juga menghadirkan sesi Carbon Bazaar yang menampilkan 15 proyek karbon berskala besar dari berbagai sektor, mulai dari kehutanan, energi terbarukan, hingga solusi berbasis alam. Selain itu, sesi Business Matching mempertemukan langsung pengembang proyek karbon dengan calon investor, membuka ruang negosiasi konkret terkait pembiayaan dan kerja sama jangka panjang.
Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif dalam pasar karbon global berkat kombinasi sumber daya alam, dukungan kebijakan pemerintah, serta meningkatnya kesiapan infrastruktur digital. Dengan dukungan lintas kementerian, pengembangan pasar karbon nasional diarahkan tidak hanya untuk memenuhi target penurunan emisi, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi baru yang berkelanjutan.
Ke depan, penguatan infrastruktur pasar karbon di Indonesia diharapkan mampu mempercepat arus investasi hijau, meningkatkan daya saing proyek karbon nasional, serta memperkuat peran Indonesia sebagai penghubung antara negara berkembang dan pasar keuangan global. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas investasi. (nsp)
Load more