Bertahun-tahun Tak Ada Siang, Warga Kampung Tongkol Jakarta Utara Ngaku Sudah Biasa Hidup di Dalam Gelap Gulita
- tvOneNews
Semakin ke sini, Ibu Emi sekeluarga sudah sangat nyaman hidup di tengah permukiman tanpa mengenal siang hari.
Bahkan, Ibu Emi membeli kontrakan kecil tersebut, hingga kini menjadi tempat tinggal pribadinya.
Ia menyampaikan kenapa bisa menyewa kontrakan di bawah rel kereta api yang jelas-jelas sulit tersentuh sinar matahari.
"Dulu di sini ada yang jual murah, jadi daripada saya ngontrak terus, saya beli di sini bersama keluarga," katanya.
Karena tinggal di kontrakan berdiameter sekitar 5x3 meter, Ibu Emi terus mengembangkan luas tempat tinggalnya.
Meski di bawah lorong yang gelap gulita, banyak kontrakan yang bertingkat, bahkan disewakan kepada perantau yang datang ke Jakarta.
Pada bagian ruang bawah kontrakannya, hanya terdapat dapur yang dilapisi cat berwarna biru namun sangat padat.
Di sampingnya, ada kamar mandi yang terbilang hanya bukuran sempit. Untuk ruangan di atas menjadi ruang tamu dan kamar tidur.
Ia menceritakan pada tahun 1999-an, suasana di Kampung Tongkol sangat sepi, bahkan masih jarang permukiman di sana.
Kondisi saat itu benar-benar nyaman sebelum permukiman padat akibat banyak pendatang yang membangun kontrakan di sana.
"Masih jarang-jarang. Jadi, awalnya sebenarnya hawa itu sejuk aja gitu karena belum padat kayak sekarang dibangun (banyak kontrakan). Padahal, dulu masih kosong," bebernya.
Tapi, ia cukup senang karena warga tak melupakan aksi "gotong-royong".
"Harapannya, pemerintah bisa membantu orang-orang yang kurang mampu di sini," tukasnya.
(hap)
Load more