Dulu Orang Kaya Forbes, Kini Tersangka Kredit? Nasib Iwan Lukminto Disorot!
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com – Penegakan hukum terhadap konglomerat nasional kembali jadi sorotan. Direktur Utama sekaligus Komisaris Utama PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Iwan Setiawan Lukminto, ditangkap oleh tim penyidik Kejaksaan Agung RI pada Selasa malam, 21 Mei 2025, di Solo, Jawa Tengah.Â
Ia diamankan dalam penyidikan dugaan korupsi terkait pemberian fasilitas kredit kepada perusahaan tekstil raksasa itu.
Penangkapan dilakukan oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus. Meski status tersangka belum diumumkan, penyidikan telah memasuki tahap umum. Kejagung menyatakan bahwa kasus ini memiliki implikasi luas, mengingat nilai kredit yang bermasalah diduga mencapai triliunan rupiah.
Dari Pewaris Bisnis Tekstil ke Pusat Sorotan Hukum
Iwan Lukminto bukan sosok sembarangan. Ia lahir di Surakarta pada 24 Juni 1975, menempuh pendidikan tinggi di Boston, AS, dan melanjutkan jejak ayahnya, H.M. Lukminto, dalam membesarkan Sritex.Â
Di bawah kepemimpinannya, Sritex sempat menguasai pangsa besar pasar tekstil global, termasuk sebagai pemasok seragam militer internasional.
Namun, sejak 2020, badai mulai datang. Meski kekayaannya sempat menembus USD 515 juta dan masuk daftar 50 orang terkaya versi Forbes, kondisi Sritex mulai memburuk, hingga pada Maret 2025, dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang. Putusan itu diperkuat Mahkamah Agung akibat beban utang mencapai Rp 26,2 triliun.
Ribuan Buruh Terimbas, Kekayaan Menyusut
Tak hanya perusahaan yang goyah, nasib ribuan pekerja pun ikut terpukul. Lebih dari 10.000 karyawan terkena PHK, dan banyak di antaranya belum menerima hak upah serta pesangon. Aksi protes buruh pun sempat mengguncang beberapa fasilitas pabrik.
Di tengah konflik tersebut, keluarga Lukminto masih mengendalikan mayoritas saham Sritex lewat PT Huddleston Indonesia. Sementara Iwan juga diketahui memiliki investasi lintas sektor, termasuk Golden Legacy Pte Ltd dan Sriwahana Adityakarta Tbk.Â
Ia juga dikenal sebagai pengelola Tumurun Private Museum di Surakarta, simbol kekayaan dan kecintaan keluarga pada seni.
Namun kini, semua catatan bisnis dan kekayaan itu berada dalam sorotan tajam aparat penegak hukum. Dugaan kuat bahwa pemberian fasilitas kredit bank dilakukan dengan cara yang tidak wajar bisa menjadi babak baru dalam deretan skandal keuangan korporasi besar tanah air.
Load more