- Canva @PutriRani
Mengapa Rasulullah SAW Anjurkan Perbanyak Puasa Sunnah di Bulan Syaban? Begini Penjelasan dari Ulama
"Syaban adalah bulanku. Barang siapa berpuasa sehari saja di bulanku ini, ia berhak mendapatkan surga."
Dalam hadits riwayat dari Abu Hurairah RA mengungkapkan bahwa puasa sunnah dilarang apabila telah melalui malam Nisfu Syaban, Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila tersisa separuh bulan Syaban, janganlah berpuasa." (HR. Tirmidzi Nomor 738 & Abu Dawud Nomor 2337)
Sementara hadits riwayat lainnya menegaskan pernyataan puasa sunnah dilarang sampai bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda:
"Jika tersisa separuh bulan Syaban, maka tidak ada puasa sampai datang Ramadhan." (HR. Ibnu Majah Nomor 1651)
Walau demikian, UAH mengingatkan kekeliruan hal ini tidak boleh disalahartikan. Maksud hadits riwayat ini, puasa sunnah tidak diperkenankan ketika selesai pertengahan tanggal bulan Syaban atau malam Nisfu Syaban.
"Termasuk melalui waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan, seperti bulan Syaban," tegas dia.
Direktur Quantum Akhyar Institute tersebut menegaskan tidak ingin memperpanjang polemik mengenai persoalan ini.
Pasalnya, puasa sunnah merupakan salah satu amalan terbaik yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, selama dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hadis yang diriwayatkan.
"Amalan yang spesifik yang banyak dikerjakan oleh Nabi SAW itu ternyata puasa," ucap UAH.
Kebiasaan Rasulullah SAW dalam menjalankan puasa sunnah sempat membuat para sahabat merasa heran, hingga mereka langsung menanyakannya kepada beliau.
Tokoh yang juga menjadi salah satu pimpinan di PP Muhammadiyah itu menjelaskan bahwa keistimewaan puasa sunnah terletak pada dua hal utama, yakni menjaga amal saleh serta menjauhkan diri dari perbuatan keliru.
Selain berfungsi sebagai latihan agar tidak kaget saat memasuki bulan Ramadhan, puasa sunnah juga menumbuhkan kegemaran dalam bersedekah serta mengamalkan Al-Qur’an, khususnya ketika seseorang diuji untuk menahan hawa nafsu.
"Karena itu orang puasa amalannya cenderung baik. Nah, kalau (amalan) sudah baik, disampaikanlah kepada Allah ketika kondisi yang terbaik. Seraya, 'Ya Allah, si Fulan hamba-Mu puasa', 'Ya Allah, si Fulan sedang membaca Al Quran', 'Ya Allah, saat ini si Fulan sedang sedekah'. Jadi, semua itu baik," pungkasnya.
(hap/kmr)