- Tangkapan layar YouTube Adi Hidayat Official
Bagaimana Nasib yang Patungan kalau Hewan Kurban Jadi Kendaraan di Akhirat? Begini Jawaban Ustaz Adi Hidayat Ternyata...
Lebih lanjut pada persoalan hewan kurban, kata dia, para ulama memiliki berbagai tanggapan tentang kendaraan untuk melewati shiratal mustaqim nanti.
"Yang menyebutkan bahwa boleh jadi perkataan-perkataan ini sesungguhnya bukan ingin menunjukkan aslinya. Ini menjadi kendaraan, tapi berupa majas atau kiasan karena ungkapan dalam bahasa Arab itu sering bisa bermakna kiasan," jelasnya.
UAH sapaan populernya berspekulasi terkait makna tujuan tentang penjelasan hewan kurban dianggap berbentuk pahala, bukan diartikan kendaraan.
"Maksudnya, hewan-hewan ini jika memang kita bisa mencari yang paling bagus, mencari yang paling baik, maka dimungkinkan pahalanya semakin bagus, semakin banyak. Dengan banyaknya pahala ini, ini yang memudahkan kita melewati sirat karena timbangannya semakin besar, semakin banyak," paparnya.
Soal nasib shohibul qurban, Direktur Quantum Akhyar Institute itu mengambil gambaran dari kisah anak Nabi Adam AS.
Dalam kisah itu, pahala kurban anak Nabi Adam AS diterima, sedangkan bagi yang memilih dari hasil kurang bermanfaat akan tertolak.
Lagipula, esensi berkurban adalah mencapai ketakwaan, bukan membicarakan daging hewan yang dihasilkan.
Kesimpulan dari penjelasan Ustaz Adi Hidayat, kendaraan yang dimaksud adalah pahala dan seekor sapi tidak akan menunggangi tujuh orang di akhirat kelak.
(far/hap)