- Tangkapan layar YouTube Adi Hidayat Official
Kebiasaan Rasulullah SAW di Hari Raya: Dari Mandi Sunnah hingga Takbir
tvOnenews.com - Hari Raya Idul Fitri sudah di depan mata, inilah momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Dalam perayaan ini, Rasulullah SAW memiliki kebiasaan yang penuh hikmah dan mengandung nilai-nilai keislaman yang patut kita teladani. Berikut beberapa sunnah Rasulullah SAW yang dilakukan saat Hari Raya.
Berdasarkan penjelasan Ustaz Adi Hidayat, ada beberapa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah saat hari raya Idul Adha dan ada yang jadi pembeda dengan Idul Fitri. Beberapa kebiasaan Rasulullah SAW ini ditekankan untuk dilakukan oleh setiap muslim. Sebab kebiasaan Rasulullah SAW saat hari raya ini dijelaskan langsung oleh cucu Nabi Al Hasan bin Ali ya radhiyallahu ta'ala anhuma.
Maka jika keluarga Nabi saja ditekankan untuk melakukannya, maka umat Nabi Muhammad SAW sangat dianjurkan untuk melakukannya.
“Kata Al Hasan, Rasulullah SAW, Datuk kami memerintahkan kepada kami, lihat bahasanya memerintahkan pada kami, memang ini sunah tapi sunnah ketika dibuka dengan kalimat perintah ini menunjukkan sifatnya muakkadah sangat ditekankan,” ujar UAH sebagaimana dikutip dari Kanal YouTube Adi Hidayat Official pada Minggu (30/3/2025)
Kenakan Pakaian Terbaik
“Kami diperintahkan setiap tiba dua hari raya maksudnya Idul Fitri dan Idul Adha, pertama untuk mengenakan mencari pakaian terbaik yang kami dapati, nah ini sunnah pertama,” jelas UAH.
Maka sebagai umat Nabi dan jika kita cinta pada Rasulullah SAW seharusnya lebih maksimal harus menjalaninya.
“Maka ayo silahkan buka koleksi pakaiannya, cari yang paling bagus yang setidaknya sesuai dan layak digunakan untuk menunaikan shalatnya,” kata UAH.
Namun Ustaz Adi Hidayat mengingatkan bahwa pakaian yang dimaksud tidaklah harus baru dan mewah. Namun terbaik dan layak untuk digunakan.
“Masya Allah kapan lagi pakai baju bagus langsung ada pahalanya, unik kan.. Anda belum shalat sudah punya pahala karena mengenakan pakaian terbaik, ” tandas UAH.
Laki-laki Gunakan Wewangian
Kemudian sunnah berikutnya yang ditekankan oleh Nabi kepada keluarganya adalah memakai wewangian bagi laki-laki saat hari raya.
“Yang kedua untuk laki-laki khususnya, kenakan wewangian terbaik,” kata UAH.
“Namun diingat ya kalimat pewangiannya menggunakan kalimat Toyib, yang thoyyib itu sesuatu yang nyaman dirasakan jadi ciumnya enak dipakai juga enak. Jangan sampai Anda enak sendiri tapi orang lain tidak nyaman menciumnya,” tambah UAH.
Ustaz Adi Hidayat kemudian menyarankan agar wewangian itu dibawa ke masjid dan kemudian dibagikan kepada jemaah lainnya.
Makan Setelah Pulang dari Masjid
Sunnah berikutnya yakni dijelaskan oleh Ustaz Adi Hidayat adalah makan saat hari raya. Namun ada perbedaan antara makan saat Idul Fitri dan Idul Adha.
“Dalam hadits riwayat ahmad no 22.984, riwayat dari sahabat Buraidah RA, dikatakan bahwa Rasulullah beliau tidak pernah berangkat untuk mengerjakan idul Fitri kecuali sebelumnya makan dulu,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
Hal ini berbanding terbalik dengan kebiasaan Rasulullah saat Hari Raya Idul Adha.
“Saat Idul Fitri, makan dulu baru jalan shalat, namun saat Idul Adha beliau berangkat tidak makan dulu, setelah pulang baru makan,” kata UAH.
Ustaz Adi Hidayat kemudian mengingatkan meski sunnahnya adalah makan setelah sampai di rumah, namun jika sebelum sampai rumah Anda lapar maka silahkan makan.
“Jadi setelah dengarkan khutbah Idul Adha Anda pulang Anda makan,” lanjutnya.
Sampai pulang maksudnya di perjalanan Anda lapar tapi sudah selesai shalat, silahkan makan,” tandas Ustaz Adi Hidayat.
Ustaz Adi Hidayat mengatakan jika mau lebih sunnah lagi, makanan yang pertama dicicipi usai Shalat Idul Adha adalah daging hewan kurban.
“Yang Beliau makan daging hewan kurban yang telah disembelih dan dimasak dulu,” jelasnya.
Jalan Kaki ke Masjid
Kemudian Ustaz Adi Hidayat menjelaskan sunnah keempat dalam melaksanakan hari raya tercantum dalam hadits At Tirmidzi nomor 533.
‘Haditsnya riwayat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala anhu, kata sahabat Ali, disunnahkan ke tempat shalat disunnahkan berjalan kaki,” ujar UAH.
Namun Adi Hidayat tak meminta langsung disimpulkan sunnah tersebut. Hal ini karena zaman Nabi dan sekarang berbeda.
“Sunnah ini bisa dilakukan jika tempat shalat itu bisa dijangkau dengan berjalan kaki,” tegas UAH.
Apa yang Dimasud dengan Ukuran Terjangkau?
“Artinya ketika sampai di tempat tujuan itu secara wajar. Datang ke tempat tanpa merasakan kesulitan, tidak terlampau penat dan lelah dan dalam keadaan itu bisa menunaikan shalat dengan tenang,” jelas UAH.
Namun jika dengan berjalan kaki Anda bisa ketinggalan shalat atau kesulitan dalam menjangkaunya hingga kemudian membuat shalat tidak khusyuk maka boleh dijangkau dengan kendaraan.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan disunnahkan untuk berjalan ke masjid sambil mengumandangkan takbir.
“Bahkan sejak tanggal 1 dzulhijjah boleh bertakbir,” ujar UAH.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa takbir dalam Idul Adha itu ibadah, maka silahkan ramaikan.
“Itu syiar. Perkenalkanlah kalimat Allah. Kata Nabi keluarlah dengan semarak takbir, Allahu Akbar dan itu termasuk syiar,” tandas UAH.
Mengambil Jalan Beda Saat Pulang dari Masjid
Kemudian kebiasaan Rasulullah SAW berikutnya ketika pulang shalat Ied kata Ustaz Adi Hidayat adalah mengambil jalan yang berbeda.
“Kedua dianjurkan untuk mengambil jalan lain saat pulang. Jadi masuk lewat jalan satu kembali lewat jalan yang kedua,” jelas UAH.
Kebiasaan Rasulullah mengenai hal tersebut tertera dalam beberapa hadits. Salah satunya hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ta’ala anhuma terdapat di Al Hakim al-mustadrak nomor hadits 1.106.
“Saya bacakan nah ini punya Umar radhiyallahu ta’ala an humazin musala selanjutnya dikuatkan Abu Hurairah di riwayat Ahmad nomor hadis 8.435,” kata UAH.
“Kata sahabat Abu Hurairah adalah kebiasaan Nabi SAW, kalau berangkat ke tempat shalat, maka pulangnya itu berputar lewat jalan yang lain,” kata Ustaz Adi Hidayat.
Itulah kKebiasaan Rasulullah SAW saat Hari Raya penuh dengan nilai-nilai syukur, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan meneladani sunnah-sunnah beliau, kita tidak hanya menjadikan Hari Raya sebagai perayaan semata, tetapi juga sebagai momentum spiritual yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Wallahua’am