- Tangkapan Layar/YouTube Adi Hidayat Official
Esensi Mudik dalam Islam, Ustaz Adi Hidayat: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung
“Dari situasi mudik ini kalau sekarang ada kemacetan sekarang ada kesulitan di perjalanan ada keringat perlu lelah mengantre dan lain sebagainya maka di akhirat nanti bukan hanya drama lagi tapi segala yang sejati sungguh terjadi.
“Kepadatan kepenatan menunggu hisab antrean saat kita mudik berpulang keharibaan Allah subhanahu wa ta'ala, persoalan terbesar apakah bekal kita cukup?” tanya UAH.
Maka, seperti layaknya mudik di dunia, Ustaz Adi Hidayat mengingatkan setiap muslim untuk lebih serius mempersiapkan bekal untuk mudik ke akhirat.
“Agar nanti rumah kita insya Allah di surga tertata rapi indah dan kita disambut oleh para malaikat, karena dengan bekal yang terbaik itu ada janji kenikmatan paripurna yang bisa kita rasakan,” pesan UAH.
“Malaikat datang menyambut di setiap titian pintu surga dan mengatakan selamat Anda sabar dalam mencari bekal untuk pulang sekarang,” tambahnya.
Jika bekal di dunia cukup, maka nanti silakan menikmati tempat terindah.
“Silakan nikmati tempat terindah yang telah disajikan dan belum pernah dijamah oleh makhluk Allah manapun yang pernah berkehidupan Qur'an surah ke-13 arradu di ayat ke-24,” ujar UAH.
Itulah pesan mendalam dari Ustaz Adi Hidayat tentang mudik dimana tradisi setiap Lebaran ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju kampung halaman, tetapi juga perjalanan spiritual yang penuh makna. Di dalamnya terkandung ajaran Islam yang sangat mulia, seperti menjaga silaturahmi, berbakti kepada orang tua, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta memperkuat nilai-nilai keimanan.
Bahkan mudik mengingatkan setiap manusia bahwa kita semua akan kembali kepada Allah SWT yang tentu harus mempersiapkan segalanya dengan baik sebagai bekal. Oleh karena itu, mari jadikan mudik sebagai sarana untuk mendapatkan keberkahan, bukan hanya sekadar tradisi pulang kampung, tetapi juga bentuk ibadah yang mendatangkan ridha Allah SWT.
Wallahu'alam bishawab
(put)