- istimewa - antaranews
IHSG Dibuka Melemah, Pasar Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah dan Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Beberapa indikator penting yang ditunggu antara lain:
-
Risalah rapat The Fed (FOMC Minutes)
-
Data inflasi
-
ISM Service PMI
-
Michigan Consumer Sentiment
-
Data inflasi PCE
Rilis data ini akan memberikan gambaran arah kebijakan moneter The Fed, yang turut mempengaruhi arus modal global, termasuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Sentimen Domestik: Aturan Baru dan Data Ekonomi
Dari dalam negeri, pasar juga merespons implementasi aturan baru terkait keterbukaan data High Shareholding Concentration (HSC).
Kebijakan ini dinilai berpotensi memicu volatilitas jangka pendek, terutama pada saham dengan likuiditas rendah akibat risiko overhang. Namun dalam jangka panjang, aturan tersebut diharapkan meningkatkan transparansi dan likuiditas pasar modal Indonesia.
Selain itu, pelaku pasar menantikan rilis sejumlah data ekonomi nasional, di antaranya:
-
Cadangan devisa (8 April 2026)
-
Indeks keyakinan konsumen (10 April 2026)
-
Data penjualan otomotif (10 April 2026)
Data-data ini akan menjadi indikator penting dalam melihat daya tahan ekonomi domestik di tengah tekanan global.
Bursa Global Bergerak Variatif
Pergerakan bursa global turut memberikan sentimen campuran terhadap IHSG.
Di Eropa, mayoritas indeks saham ditutup melemah, dengan rincian:
-
Euro Stoxx 50 turun 0,70 persen
-
DAX Jerman melemah 0,56 persen
-
CAC 40 Prancis turun 0,24 persen
-
FTSE 100 Inggris justru menguat 0,69 persen
Sementara itu, Wall Street menunjukkan kinerja variatif:
-
Dow Jones melemah 0,13 persen ke 46.504
-
S&P 500 naik 0,11 persen ke 6.582
-
Nasdaq menguat 0,18 persen ke 21.879
Di kawasan Asia pada Senin pagi, pergerakan indeks juga tidak seragam:
-
Nikkei Jepang menguat 1,05 persen
-
Shanghai Composite turun 1,00 persen
-
Hang Seng melemah 0,70 persen
-
Strait Times naik 0,24 persen
Investor Pilih Wait and See
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik, pelaku pasar saat ini cenderung mengambil posisi wait and see. Ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang menahan agresivitas transaksi.
Selama konflik Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda, volatilitas IHSG diperkirakan masih akan berlanjut. Investor pun diimbau untuk lebih selektif dalam mengambil keputusan, terutama di tengah potensi tekanan eksternal yang masih tinggi. (ant/nsp)