- ANTARA
Mudik Zaman Now: Kenapa Orang Indonesia Pilih Lewat Luar Negeri?
Jakarta, tvOnenews.com - Fenomena mudik lewat luar negeri kian marak terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Jika sebelumnya tradisi mudik identik dengan perjalanan antarkota atau antarprovinsi di dalam negeri, kini semakin banyak masyarakat yang memilih rute melalui negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia untuk pulang ke kampung halaman.
Lantas, apa yang menyebabkan fenomena ini terjadi? Dan bagaimana dampaknya terhadap tradisi mudik di Indonesia? Simak ulasannya berikut ini.
Alasan di Balik Tren Mudik Lewat Luar Negeri
Sejumlah faktor utama menjadi pendorong masyarakat untuk memilih jalur internasional dalam melakukan perjalanan mudik:
1. Harga Tiket Lebih Murah
Perbedaan harga tiket pesawat internasional dan domestik menjadi alasan utama mengapa masyarakat beralih ke jalur internasional. Pada musim mudik, harga tiket pesawat domestik biasanya melonjak tajam akibat lonjakan permintaan.
Sebaliknya, tiket penerbangan ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia justru lebih kompetitif karena adanya persaingan antar maskapai dan kebijakan promosi.
2. Konektivitas dan Pilihan Transportasi yang Lebih Baik
Bandara internasional seperti Changi di Singapura dan KLIA di Malaysia menawarkan konektivitas yang lebih luas dengan pilihan maskapai yang beragam.
Setelah mendarat di negara tetangga, pemudik bisa melanjutkan perjalanan ke Indonesia menggunakan maskapai lokal atau jalur darat dan laut dengan harga yang lebih kompetitif.
3. Kualitas Layanan dan Fasilitas yang Lebih Baik
Bandara internasional di negara tetangga dikenal memiliki reputasi baik dalam hal kenyamanan dan efisiensi layanan. Pemudik cenderung memilih rute internasional karena proses imigrasi yang lebih cepat, fasilitas yang lengkap, dan kenyamanan selama perjalanan.
Bandara Changi di Singapura, misalnya, menawarkan layanan check-in otomatis, lounge dengan fasilitas lengkap, hingga akses transportasi ke pusat kota yang cepat dan nyaman. Kondisi ini berbeda dengan beberapa bandara domestik di Indonesia yang masih menghadapi masalah antrean panjang dan fasilitas yang kurang memadai.
4. Fleksibilitas dan Waktu Tempuh yang Lebih Singkat
Keterbatasan jadwal penerbangan domestik pada musim mudik kerap menyulitkan masyarakat dalam menentukan jadwal yang sesuai. Sebaliknya, penerbangan ke Singapura atau Malaysia menawarkan lebih banyak opsi jadwal, sehingga pemudik bisa lebih fleksibel dalam mengatur perjalanan.
Contoh Kasus Perbedaan Harga dan Konektivitas
Sebagai contoh, pada musim Lebaran tahun lalu, harga tiket pesawat Jakarta–Medan mencapai Rp2,5 juta hingga Rp3 juta sekali jalan. Sementara itu, tiket Jakarta–Kuala Lumpur bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp1,5 juta. Setelah tiba di Kuala Lumpur, pemudik bisa melanjutkan perjalanan ke Medan dengan penerbangan lokal yang hanya memakan biaya sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu. Dengan total biaya sekitar Rp2 juta, rute ini jelas lebih ekonomis daripada penerbangan langsung dalam negeri.
Seorang pemudik dari Surabaya, misalnya, bisa terbang ke Singapura dengan harga sekitar Rp1,8 juta. Setelah tiba di Singapura, mereka bisa melanjutkan perjalanan ke Batam menggunakan feri dengan biaya sekitar Rp300 ribu. Selain lebih hemat, rute ini juga menawarkan lebih banyak jadwal penerbangan dan transportasi lanjutan.
Di sisi lain, seorang pemudik asal Padang mengungkapkan bahwa dirinya lebih memilih terbang ke Kuala Lumpur terlebih dahulu karena harga tiket yang lebih murah dan perjalanan yang lebih nyaman.
Setelah tiba di Kuala Lumpur, dia melanjutkan perjalanan ke Padang dengan maskapai lokal, yang secara keseluruhan lebih hemat sekitar 20% dibandingkan penerbangan langsung.
Dampak Tren Ini Terhadap Tradisi Mudik
Fenomena ini tentu memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap pola mudik tradisional di Indonesia:
1. Penurunan Penumpang di Rute Domestik
Lonjakan harga tiket dan kurangnya pilihan transportasi menyebabkan sebagian pemudik beralih ke jalur internasional. Akibatnya, jumlah penumpang di rute domestik berpotensi menurun. Kondisi ini dapat berdampak pada pendapatan maskapai nasional dan pengelola bandara di dalam negeri.
2. Meningkatnya Lalu Lintas di Perbatasan
Peningkatan jumlah pemudik yang menggunakan jalur internasional melalui Singapura dan Malaysia menyebabkan lonjakan aktivitas di jalur perbatasan dan pelabuhan. Hal ini memicu antrean panjang di pos imigrasi dan memerlukan penguatan pengawasan di wilayah perbatasan.
Pada musim mudik 2024, Kantor Imigrasi Batam mencatat lonjakan jumlah penumpang feri dari Singapura dan Malaysia hingga 30% dibandingkan hari biasa. Antrean di pelabuhan internasional Batam Center bahkan sempat mencapai lebih dari satu jam akibat lonjakan jumlah pemudik yang datang dari luar negeri.
3. Perubahan Pola Mudik Tradisional
Jika sebelumnya mudik identik dengan perjalanan darat atau laut antarkota di Indonesia, tren ini menunjukkan adanya perubahan pola. Masyarakat kini mulai memanfaatkan jalur internasional untuk kenyamanan dan efisiensi biaya.
Respons Pemerintah dan Industri Penerbangan
Pemerintah dan maskapai nasional perlu merespons tren ini dengan strategi yang tepat, di antaranya:
1. Penyesuaian Harga Tiket Domestik
Untuk menekan peralihan ke jalur internasional, maskapai domestik perlu menawarkan kebijakan harga yang lebih kompetitif. Insentif dan promo khusus bisa menjadi solusi untuk menarik kembali minat pemudik pada rute domestik.
Pemerintah Indonesia pada tahun 2025 telah mengumumkan diskon tiket pesawat domestik kelas ekonomi sebesar 13 hingga 14 persen untuk periode mudik Lebaran.
Kebijakan ini berlaku untuk pembelian tiket yang dilakukan antara 1 Maret hingga 7 April 2025, dengan jadwal penerbangan antara 24 Maret hingga 7 April 2025.
Diskon ini diberikan melalui insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 6 persen yang ditanggung pemerintah, sehingga masyarakat hanya membayar PPN 5 persen.
2. Peningkatan Kualitas Layanan di Bandara Domestik
Peningkatan fasilitas, percepatan layanan imigrasi, dan kenyamanan di bandara domestik perlu menjadi prioritas untuk meningkatkan daya saing terhadap bandara internasional di negara tetangga.
3. Pengembangan Konektivitas Antarwilayah
Peningkatan konektivitas jalur udara, darat, dan laut di dalam negeri perlu dilakukan agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan transportasi untuk mudik tanpa harus melewati negara lain.
Tren mudik lewat luar negeri yang marak terjadi saat ini mencerminkan adanya kebutuhan akan transportasi yang lebih fleksibel, murah, dan nyaman.
Meskipun menawarkan efisiensi biaya dan kenyamanan, fenomena ini dapat berdampak pada pola perjalanan tradisional dan industri penerbangan domestik.
Oleh karena itu, respons adaptif dari pemerintah dan pelaku industri sangat dibutuhkan untuk memastikan tradisi mudik tetap terjaga, tanpa mengorbankan kenyamanan dan keterjangkauan bagi masyarakat. (nsp)