- tim tvone - zainal ashari
Jelang Imlek, Ornamen Lampion Kelinci Air Mulai Diburu Warga Tionghoa di Pasar Atom Surabaya
Bukan simbol kelinci saja yang diburu, Sujani mengatakan, para pelanggan kerap memburu pohon jeruk. Menurutnya, jeruk diyakini sebagai pengundang rezeki oleh masyarakat Tionghoa di Cina.
“Selain kelinci, yang masih ramai jeruk, karena keyakinannya di Cina kan setiap rumah selalu pakai pohon jeruk, dianggap membawa rejeki, setiap tahun selalu ada peminatnya. Lalu, untuk pasangannya kelinci ya lampion, itu yang paling utama, kemudian angpau juga paling diburu,” katanya.
Ia juga bersyukur karena tahun ini penjualannya mulai merangkak naik. Meskipun jika dihitung masih belum meroket atau seramai sebelum pandemi melanda.
“Sudah bagus, lumayan sudah ada peningkatan dibanding tahun sebelumnya, sekitar 50% sampai 60% lah,” tuturnya.
Hal senada disampaikan pengunjung Imlek di Pasar Atom Mal, Imelda. Menurutnya yang sengaja datang bersama keluarga dari Palu, Sulawesi Tengah, berburu beragam hiasan yang dijual di pasar pecinan tertua dan terbesar di Indonésia Timur tersebut.
“Macamnya banyak harganya sekarang lebih terjangkau karena sudah mulai normal. Saya beli angpau, pohon, sampai mainan barongsai. Harganya paling murah angpau mulai Rp3000 sampai Rp12 juta itu pohon sakura yang pakai lampu,” kata dia.
Selain warga tionghwa juga banyak yang berburu pernak-pernik Imlek terutama perkantoran hotel hingga rumah sakit di Surabaya. Seperti Ayu Santi (40), manager sebuah rumah sakit internasional di Surabaya mengaku, rumah sakit yang dikelolanya berhias imlek dan memborong sejumlah ornamen hingga hiasan rumah, seperti lampion dengan gambar kelinci hingga pohon sakura dan ornamen barongsai.
“Kami berburu untuk hiasan rumah sakit. Ini saya memborong lampion akrilik, pohon sakura ornamen barongsai serta gambar stiker kelinci air untuk dipajang di seluruh sudut rumah sakit,” sambungnya seraya membawa lampion berbahan akrilik, lengkap dengan kabel listrik di dalamnya.
Ia berharap, usai dicabutnya PPKM dan menurunnya angka Covid-19, semua aktivitas masyarakat normal lagi. Sehingga, seluruh umat beragama lainnya juga bisa merayakan hari raya keagamaan dengan semarak dan khidmat.
“Kalau tahun ini sudah ada peningkatan sekarang, semoga tahun depan jauh lebih bebas lagi seperti sebelum pandemi,” imbuh Ayuni.