- REUTERS/Phil Noble
Michael Carrick Kembalikan Identitas Manchester United, Menghidupkan Lagi Warisan Sir Alex Ferguson?
Pendekatan ini membuat Manchester United kehilangan esensinya. Fans tidak menuntut sepak bola tanpa struktur, tetapi juga tidak ingin melihat kreativitas pemain dimatikan.
Di era Sir Alex Ferguson, struktur dan kebebasan berjalan beriringan, pemain bertanggung jawab terhadap tim, namun diberi ruang untuk menentukan hasil pertandingan di momen krusial.
Sebaliknya, Amorim cenderung melihat sistem sebagai segalanya. Pemain yang tidak sesuai dianggap masalah, bukan solusi. Akibatnya, United kerap tampil datar, kehilangan momen magis yang selama ini menjadi ciri khas klub.
- instagram Bruno Fernandes
Carrick Menemukan Keseimbangan yang Lama Hilang
Perubahan terasa cepat begitu Carrick mengambil alih. Bukan sekadar soal atmosfer positif, melainkan keseimbangan nyata antara disiplin dan kebebasan bermain. Carrick tidak menabrak struktur, tetapi juga tidak menjadikannya penjara bagi pemain.
Dalam dua laga awal melawan Manchester City dan Arsenal, Manchester United tampil lebih cair. Pemain terlihat lebih berani mengambil keputusan, lebih percaya diri mengeksekusi ide, dan lebih hidup saat menyerang.
Gol-gol yang tercipta bukan hasil kebetulan, melainkan konsekuensi dari pemain yang dilepas dari belenggu sistem terlalu ketat.
Carrick memahami bahwa sepak bola Manchester United selalu bertumpu pada kualitas individu yang bekerja untuk kepentingan kolektif.
Ia tidak ekstrem seperti Amorim, namun juga tidak membiarkan permainan berjalan tanpa kendali. Titik tengah inilah yang selama ini hilang.
Memang, dua pertandingan belum cukup untuk membuat kesimpulan besar. Namun setidaknya, Michael Carrick telah mengembalikan sesuatu yang sangat dirindukan: identitas Manchester United.
Dengan menghidupkan kembali aturan pertama Sir Alex Ferguson, percaya pada pemain tanpa melupakan tim—Setan Merah kembali tampak seperti dirinya sendiri. (udn)