- tim tvonenews.com
Martabat Palestina
Pada 2010 saya pernah memasuki markas tertinggi mereka di Gaza. Dengan mata tertutup, para pengawal bersenjata dan orang orang sipil membawa saya dengan kendaraan ke sebuah tempat. Selanjutnya saya memasuki lorong lorong bawah tanah (juga dengan mata tertutup) yang agaknya dijadikan benteng pertahanan sekaligus tempat menggembleng pejuang-pejuang terbaik Hamas.
Setelah beberapa saat barulah mata saya dibuka. Dalam keremangan saya melihat bendera pembebasan Palestina terpasang pada sebuah dinding batu di ruangan seluas 5 meter x 5 meter. Ada peta wilayah terpancak di satu sisi ruang. Beberapa pengawal bersenjata menjaga pintu masuk ke ruang tersebut. Sesosok pria jangkung dengan mata teduh lalu menyapa saya.
Ia kemudian saya kenali sebagai Khaled Mashal, orang yang ikut mendirikan organisasi berwibawa ini pada 1987.
Sejujurnya, saya tidak terlalu ingat percakapan kami soal pandangan politiknya saat itu dalam membedah konflik Palestina-Israel. Yang terkenang hingga kini adalah gaya bicaranya yang runtut, teratur, terasa menghormati lawan bicara, termasuk saat terlihat takzim ketika mendengar dan menjawab.
(Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa (kanan) mewawancara salah satu pendiri Hamas Khaled Mashal (kiri). Sumber: Dok Pribadi)
Dengan pengalaman ini, saya jadi paham bagaimana Mohammed Deif punya kecanggihan pengetahuan perang dan diplomasi. Ia barangkali adalah Che Guevara bagi bangsa Palestina. Selama tahun 2000-an, dia selamat dari empat upaya pembunuhan oleh Israel walau harus menderita luka-luka parah --termasuk kehilangan salah satu mata dan beberapa bagian tubuhnya.
Upaya pembunuhan kelima atas Deif terjadi saat operasi militer Israel di Gaza pada 2014. Saat itu Israel melancarkan serangan udara atas sebuah rumah di kawasan Sheikh Radwan di Gaza, yang menewaskan istri Deif, Widad, dan anaknya yang masih bayi, bernama Ali. Israel mengira serangan itu turut menewaskan Deif. Tak lama kemudian, Hamas menyatakan bahwa Deif "masih hidup dan memimpin operasi militer" atas Israel.
Ia membangun roket Al qassam, salah satu harga diri Hamas yang dilecehkan selama bertahun tahun sebagai “teror” yang tak efektif. Roket yang baru dimiliki pejuang Hamas pada 2001 ini memang dibangun perlahan lahan. Ia hanya rakitan dari besi besi tua berpelontar yang diberi bahan peledak. Daya jangkaunya rendah, bahkan kerap jatuh di wilayah Palestina sendiri.