- Instagram/@s_tjo
Target Gubernur Sherly Tjoanda Imbas 34 Persen Pertumbuhan Malut Belum Merata, Desak Infrastruktur Rp2,9 Triliun ke DPR
Poin pertama terletak pada jalan Provinsi (IJD). Usulan ini bisa membutuhkan anggaran sekitar Rp789 miliar agar melancarkan perbaikan jalan provinsi.
Pasalnya, perbaikan pada bagian ini selama ini belum tersentuh Inpres Jalan Daerah (IJD). Pada 2025, Malut tercatat hanya mendapatkan anggaran Rp300 miliar IJD dalam mewujudkan pembangunan jalan kabupaten.
Poin kedua terletak pada percepatan Kota Sofifi. Usulan anggaran yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas Ibu Kota yang layak sekitar Rp686 miliar.
Kebutuhan pembangunan ini menyasar pada Stadion Sepak Bola, Pasar Higienis, Terminal, Gedung Pemadam Kebakaran, dan peningkatan rumah sakit.
Poin ketiga terletak pada kebutuhan konektivitas kawasan industri. Investasi untuk pembangunan ruas Maba-Sagea sebagai penghubung dua kawasan industri besar di Halmahera Tengah mencapai USD 20 miliar, sedangkan di Halmahera Timur sebesar USD 15 miliar.
Ia menegaskan, apabila keduanya terkoneksi, maka jarak dan waktu tempuh bisa lebih singkat. Ia menambahkan, yang tadinya bisa membutuhkan waktu 10 jam terpangkas menjadi 2 jam.
Poin keempat terletak apda akses airport Cekel. Usulan untuk aspal ruas Trans Kie Raha sekitar Rp348 miliar. Tujuannya agar mempersingkat waktu tempuh dari Sofifi menuju bandara komersial.
"Kami mendorong Komisi V dan Kemendagri agar Sofifi segera memiliki kode wilayah sendiri demi percepatan pembangunan," tegasnya.
Anggaran Dampak Bencana Alam
Lebih lanjut, Sherly menyinggung dampak dari bencana banjir dan gempa bumi. Kebetulan sejumlah wilayah Malut terdampak gempa berkekuatan magnitudo 7,6.
Kata dia, Pemprov Malut mencatat sekitar 300 rumah mengalami rusak karena banjir di Halmahera Utara & Barat. Perbaikan ini tentu membutuhkan Rp23,7 miliar.
Sementara, anggaran yang dibutuhkan untuk perbaikan rumah warga dan rumah ibadah akibat gempa di Batang Dua dan Ternate bisa menghabiskan Rp28,7 miliar.
Perhatian untuk Sektor Transportasi
Kemudian, Sherly juga menyoroti sektor transportasi yang harus diperhatikan secara lebih. Ia menginginkan adanya pembangunan pada pelabuhan penyeberangan di Pulau Rao, Kasiruta, Mandioli, Loloda, dan Pulau Hiri.
Selain itu, ia menginginkan frekuensi kunjungan kapal Tol Laut ditambah. Setidaknya kunjungan ini bisa menjadi dua kali trip dalam sebulan sebagai langkah menekan biaya logistik.