- unsplah.com/Mufid Majnun
Anjlok ke Rp17.300 per Dolar AS, Forbes Sebut Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Paling Lemah di Dunia
Jakarta, tvOnenews.com - Forbes mencatat Rupiah sebagai salah satu mata uang terlemah di dunia pada April 2026. Data diambil dari Open Exchange. Peringkat ini berdasarkan nilai tukar terhadap Dolar AS, yaitu jumlah unit mata uang untuk setara 1 dolar AS.
Berdasarkan data tersebut, rupiah ditempatkan di posisi kelima dengan kurs sekitar Rp17.066 per dolar AS. Rial Iran menempati posisi pertama sebagai mata uang terlemah dengan nilai sekitar 1.315.800 untuk 1 dolar AS.
Di bawahnya ada Lebanon dan Vietnam, masing-masing di kisaran 89.565,64 pound Lebanon dan 26.336,58 dong Vietnam per dolar AS.
Peringkat keempat ditempati Laos, dan Rupiah berada di urutan kelima. Posisi berikutnya diisi Uzbekistan, Guinean franc, Burundian franc, Malagasy ariary, dan Paraguayan guarani.
Dalam ulasannya, Forbes menyoroti tekanan terhadap rupiah meski Indonesia memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan kaya sumber daya alam.
“Dalam hal PDB, negara ini (Indonesia) merupakan yang terbesar di Asia Tenggara terutama berkat sektor jasanya. Indonesia juga kaya akan komoditas, tetapi mata uang nasionalnya telah merosot dibandingkan dengan negara lain karena kombinasi inflasi tinggi dan kekhawatiran resesi,” tulis Forbes dalam laporannya pada 9 April 2026.
Namun, penilaian itu dipersoalkan sejumlah ekonom karena dinilai hanya menggunakan ukuran nominal kurs, bukan kekuatan fundamental suatu mata uang.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pemeringkatan tersebut hanya benar jika dilihat dari denominasi terhadap dolar AS, tetapi tidak mencerminkan daya tahan ekonomi dan performa nilai tukar secara menyeluruh.
“Menurut saya, pernyataan Forbes itu benar hanya dalam arti yang sangat sempit, yaitu dari sisi nominal kurs per 1 dollar AS, bukan dari sisi kekuatan fundamental mata uang,” ujar Josua.
Ia menilai metode berbasis nominal membuat mata uang berdenominasi besar terlihat seolah-olah lemah, padahal belum tentu mencerminkan depresiasi atau kerentanan ekonomi.
“Jadi secara nominal rupiah termasuk mata uang berdenominasi besar, tetapi secara kinerja dan fundamental, kesimpulan Forbes sangat menyesatkan bila dibaca tanpa konteks,” tegasnya.
Josua menyoroti indikator yang lebih relevan untuk mengukur kekuatan rupiah adalah Real Effective Exchange Rate. Berdasarkan ukuran itu, menurut dia, rupiah masih berada di bawah level 100, yang mengindikasikan mata uang Indonesia cenderung undervalued dibandingkan tahun dasar 2020.
Ia memperkirakan kurs saat ini hanya sekitar 2 sampai 5 persen lebih lemah dibanding nilai fundamentalnya, sehingga masih memiliki peluang penguatan jika tekanan eksternal mereda.
Menurut dia, kondisi domestik juga masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat 5,11 persen, sementara inflasi Maret 2026 berada di level 3,48 persen.
Cadangan devisa Indonesia juga disebut masih kuat di sekitar 148,2 miliar dolar AS, disertai realisasi investasi sepanjang 2025 yang melampaui target hingga Rp1.931,2 triliun.
Dari sektor keuangan, pertumbuhan kredit pada Februari 2026 mencapai 9,37 persen, sedangkan simpanan tumbuh 13,18 persen.
“Jadi, kalau membaca rupiah dari kacamata REER, pertumbuhan, cadangan devisa, investasi, dan ketahanan sistem keuangan, rupiah lebih tepat disebut sedang tertekan oleh sentimen global, bukan mata uang yang rusak secara fundamental,” ungkapnya.
Josua menilai tekanan terhadap rupiah lebih dominan dipicu faktor eksternal, termasuk ketegangan geopolitik, ketidakpastian perang dagang, arah kebijakan suku bunga global, dan perlambatan ekonomi China.
Faktor-faktor itu, kata dia, mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
Ia mencatat cadangan devisa Indonesia memang mengalami penurunan pada Maret 2026, dipengaruhi pembayaran utang luar negeri, capital outflow, serta langkah stabilisasi Bank Indonesia.
Arus keluar portofolio asing pada Maret disebut mencapai sekitar 2,98 miliar dolar AS, sedangkan sepanjang kuartal I 2026 mencapai sekitar 1,78 miliar dolar AS.
Konflik di Timur Tengah juga dinilai memperbesar volatilitas pasar global dan ikut menekan mata uang emerging market.
“Jadi, level rupiah di atas Rp 17.000 sekarang lebih mencerminkan harga risiko global yang tinggi, mahalnya energi, dan permintaan dollar AS yang naik, bukan cerminan bahwa ekonomi Indonesia lemah,” kata Josua.
Meski begitu, ia melihat peluang penguatan rupiah masih terbuka jika tekanan global berkurang.
Menurutnya, ada sinyal yang mulai mendukung, termasuk pelemahan indeks dolar AS dalam beberapa pekan terakhir. Dollar Spot Index disebut turun 0,6 persen dan melemah lebih dari 2 persen dalam tiga minggu terakhir.
Harga minyak juga mengalami koreksi, dengan Brent crude turun sekitar 9,1 persen mendekati 90 dolar AS per barel, seiring indikasi meredanya tensi antara Amerika Serikat dan Iran.
Aktivitas pelayaran LNG di Strait of Hormuz yang mulai kembali normal juga dinilai memberi sinyal positif, meski risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.
“Jika tren ini berlanjut, maka tekanan dari sisi dolar, minyak, dan sentimen risiko bisa berkurang, sehingga rupiah punya ruang untuk kembali ke bawah Rp 17.000,” tuturnya.
Meski ada ruang penguatan, Josua mengingatkan ketidakpastian global masih tinggi sehingga pergerakan rupiah tetap sangat sensitif terhadap perkembangan eksternal.
Sebelumnya, nilai tukar Rupiah anjlok ke level Rp17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026) pagi. Kondisi ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah.
Nilai rupiah melemah sekitar 0,74 persen dibanding posisi penutupan sehari sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona merah. Namun, depresiasi rupiah tercatat paling dalam dibanding mata uang regional lainnya. (nba)