Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Dibanding Negara Lain, Kita Masih Kuat
- Abdul Gani Siregar/tvOnenews
Jakarta, tvOnenews.com - Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.300 per dolar AS memicu kekhawatiran publik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kondisi tersebut bukan sinyal memburuknya fundamental ekonomi Indonesia, melainkan dipengaruhi tekanan global dan persepsi pasar yang keliru.
Dalam media briefing di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026), Purbaya menekankan bahwa posisi Indonesia relatif masih lebih kuat dibanding sejumlah negara di kawasan.
“Untuk saya sih ini bukan tanda pemburukan, apa, dipicu oleh memburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain, kita masih kuat bahkan dibanding Malaysia, Thailand dan lain-lain masih kuat, cuma gerakan nilai tukarnya beda kan,” kata Purbaya.
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah saat ini tidak lepas dari dinamika global yang memicu volatilitas pasar keuangan. Namun, faktor yang tak kalah besar adalah munculnya “noise” informasi yang membentuk ekspektasi negatif terhadap ekonomi Indonesia.
“Ini kan juga terjadi noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka bilang kan tiga bulan waktu itu kan, berarti dua bulan lagi, Juni, Juli, tetapi keadaannya nggak seperti itu,” ungkapnya.
Menurut Purbaya, narasi pesimistis tersebut tidak mencerminkan kondisi riil. Ia memastikan fundamental ekonomi nasional tetap terjaga dan bahkan akan semakin kuat seiring upaya perbaikan struktural yang terus dilakukan pemerintah.
“Yang jelas fondasi ekonomi kita tidak berubah, bahkan akan semakin cepat karena kita akan semakin serius perbaiki kendala-kendala di perekonomian,” jelasnya.
Terkait stabilisasi nilai tukar, Purbaya menegaskan pemerintah mempercayakan sepenuhnya kepada Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang memiliki instrumen dan kapasitas untuk mengendalikan gejolak pasar.
“Kita serahkan ini ke pengelola-pengelolanya, regulatornya yang kita anggap mampu untuk mengendalikan,” kata dia.
Ia juga membantah spekulasi bahwa pelemahan rupiah disengaja sebagai strategi untuk meningkatkan daya saing ekspor, sebagaimana pernah dilakukan sejumlah negara lain.
“Saya bilang nggak begitu. Ini kita jalankan sesuai dengan fundamental yang ada. Tetapi dalam jangka pendek kan ada negatif sentimen ketika itu. Ekspektasi negatif terbentuk karena banyak yang bilang kita akan jatuh, rupiah akan menuju level yang lebih lemah lagi,” tandas Purbaya. (agr/iwh)
Load more