news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

ilustrasi uang.
Sumber :
  • unsplah.com/Mufid Majnun

Anjlok ke Rp17.300 per Dolar AS, Forbes Sebut Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Paling Lemah di Dunia

Berdasarkan data tersebut, rupiah ditempatkan di posisi kelima dengan kurs sekitar Rp17.066 per dolar AS.
Kamis, 23 April 2026 - 13:50 WIB
Reporter:
Editor :

Ia memperkirakan kurs saat ini hanya sekitar 2 sampai 5 persen lebih lemah dibanding nilai fundamentalnya, sehingga masih memiliki peluang penguatan jika tekanan eksternal mereda.

Menurut dia, kondisi domestik juga masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat 5,11 persen, sementara inflasi Maret 2026 berada di level 3,48 persen.

Cadangan devisa Indonesia juga disebut masih kuat di sekitar 148,2 miliar dolar AS, disertai realisasi investasi sepanjang 2025 yang melampaui target hingga Rp1.931,2 triliun.

Dari sektor keuangan, pertumbuhan kredit pada Februari 2026 mencapai 9,37 persen, sedangkan simpanan tumbuh 13,18 persen.

“Jadi, kalau membaca rupiah dari kacamata REER, pertumbuhan, cadangan devisa, investasi, dan ketahanan sistem keuangan, rupiah lebih tepat disebut sedang tertekan oleh sentimen global, bukan mata uang yang rusak secara fundamental,” ungkapnya.

Josua menilai tekanan terhadap rupiah lebih dominan dipicu faktor eksternal, termasuk ketegangan geopolitik, ketidakpastian perang dagang, arah kebijakan suku bunga global, dan perlambatan ekonomi China.

Faktor-faktor itu, kata dia, mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu arus keluar modal dari negara berkembang.

Ia mencatat cadangan devisa Indonesia memang mengalami penurunan pada Maret 2026, dipengaruhi pembayaran utang luar negeri, capital outflow, serta langkah stabilisasi Bank Indonesia.

Arus keluar portofolio asing pada Maret disebut mencapai sekitar 2,98 miliar dolar AS, sedangkan sepanjang kuartal I 2026 mencapai sekitar 1,78 miliar dolar AS.

Konflik di Timur Tengah juga dinilai memperbesar volatilitas pasar global dan ikut menekan mata uang emerging market.

“Jadi, level rupiah di atas Rp 17.000 sekarang lebih mencerminkan harga risiko global yang tinggi, mahalnya energi, dan permintaan dollar AS yang naik, bukan cerminan bahwa ekonomi Indonesia lemah,” kata Josua.

Meski begitu, ia melihat peluang penguatan rupiah masih terbuka jika tekanan global berkurang.

Menurutnya, ada sinyal yang mulai mendukung, termasuk pelemahan indeks dolar AS dalam beberapa pekan terakhir. Dollar Spot Index disebut turun 0,6 persen dan melemah lebih dari 2 persen dalam tiga minggu terakhir.

Harga minyak juga mengalami koreksi, dengan Brent crude turun sekitar 9,1 persen mendekati 90 dolar AS per barel, seiring indikasi meredanya tensi antara Amerika Serikat dan Iran.

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:14
02:02
02:22
03:40
01:47
05:18

Viral