- Flightradar24
Sinyal Smartwatch Korban Pesawat ATR 42-500 Dipastikan Rekaman Lama, Operasi SAR Tetap Dilanjutkan
Jakarta, tvOnenews.com – Beredarnya kabar mengenai pergerakan smartwatch (jam pintar) milik salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulu Sarawut, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dipastikan bukan berasal dari waktu kejadian.
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menjelaskan, data pergerakan yang terdeteksi berasal dari rekaman lama dan bukan dari lokasi kejadian saat ini.
“Terkait dengan pergerakan yang dari smartphone, kita sudah dibantu oleh Polda Sulawesi Selatan dan yang bersangkutan sudah dimintai keterangan. Setelah dibuka, ternyata rekaman itu di beberapa bulan yang lalu waktu korban masih di Jogja,” kata Syafii di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026).
Syafii menyebut, informasi tersebut telah diklarifikasi kepada pihak keluarga korban agar tidak menimbulkan harapan keliru di tengah proses pencarian yang masih berlangsung.
“Itu sudah di-clear-kan tadi pagi, dari pihak keluarga juga sudah memahami dan kita juga memahami perasaan keluarga makanya itu di-broadcast,” ujarnya.
Ia menambahkan, hingga hari keempat operasi pencarian dan pertolongan (SAR), tim gabungan masih terus berupaya mengevakuasi dua korban yang telah ditemukan, meski terkendala medan ekstrem dan cuaca di lokasi kejadian.
“Dua korban yang sudah ditemukan sekarang dalam proses evakuasi, memang karena kondisi medan dan juga cuaca,” ucap Syafii.
Menurut dia, apabila evakuasi menggunakan pesawat tidak memungkinkan, tim SAR akan berupaya membawa korban melalui jalur darat menuju punggung atau puncak gunung.
“Dengan jumlah personel yang ada, kita berupaya pada saat pesawat tidak bisa evakuasi, kita akan tetap merapatkan korban ini ke punggung daripada puncak Gunung Bulu Sarawut,” jelasnya.
Meski belum ada tanda-tanda korban selamat, Syafii menegaskan tim SAR tidak menghentikan upaya pencarian dan tetap membuka kemungkinan adanya keajaiban.
“Kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup,” katanya.
Selain pencarian korban, tim juga mulai mengumpulkan puing-puing pesawat untuk kepentingan investigasi lebih lanjut.
“Kita akan berupaya melaksanakan pencarian korban sambil mengumpulkan puing-puing untuk nanti diserahkan kepada KNKT,” pungkas Syafii. (rpi/aag)