- Frits Floris/tvOne
Masa Bodoh Kalah Pangkat dengan 'Penyiksa' Anak Tercinta, Ayah Prada Lucky Ucap Sumpah Serapah Tidak Takut dan Bakal...
tvOnenews.com - Ayah Prada Lucky Namo, Serma Christian Namo, tegas tak gentar meski pelaku penyiksaan anaknya berpangkat lebih tinggi.
Kasus kematian Prada Lucky Namo atau lengkapnya Prada Lucky Chepril Saputra Namo masih menyisakan luka mendalam bagi keluarganya.
Ayah korban, Serma Christian Namo, menegaskan dirinya tidak takut meski salah satu pelaku penyiksaan terhadap anaknya berpangkat lebih tinggi. Baginya, keadilan adalah harga mati yang harus ditegakkan.
Mendiang Prada Lucky Namo. (Sumber: Kolase tvOnenews)
Tragedi ini bermula dari rangkaian peristiwa yang terjadi sejak 27 Juli 2025, ketika Prada Lucky diperiksa Staf Intel Yonif TP 834/Wakanga Mere, Nagekeo, NTT terkait dugaan pelanggaran disiplin.
Tuduhan itu dibantah keras oleh keluarga yang menilai hal tersebut sebagai fitnah.
Kronologi Singkat Penyiksaan Tragis
Pada 28 Juli 2025, Prada Lucky mencoba melarikan diri dari barak, namun ditemukan di rumah ibu asuhnya dan dibawa kembali ke kantor Staf Intel.
Di sana, ia mengalami pemukulan brutal menggunakan selang oleh sejumlah senior. Perintah Danyonif untuk menghentikan kekerasan diabaikan.
Tidak berhenti di situ, pada dini hari 30 Juli 2025, Prada Lucky dan rekannya kembali disiksa oleh empat prajurit di sel tahanan, kali ini menggunakan tangan kosong.
Akibat penganiayaan itu, kondisi kesehatan Prada Lucky terus memburuk. Ia mengalami muntah-muntah dan dirujuk ke RSUD Aeramo pada 2 Agustus 2025.
Setelah sempat membaik, pada 4 Agustus kondisinya kembali drop hingga harus masuk ICU dan dipasangi ventilator. Sayangnya, pada 6 Agustus 2025 pukul 11.23 WITA, ia dinyatakan meninggal dunia.
Dokter menemukan ginjal dan paru-paru hancur, serta tubuh penuh luka lebam, sayatan, dan bekas sundutan rokok.
20 Pelaku, Satu Lebih Tinggi Pangkat dari Ayah Korban
Sebanyak 20 prajurit TNI diduga terlibat. Dari jumlah itu, ada satu yang berpangkat lebih tinggi dari ayah korban, yaitu Letda Inf Thariq Singajuru. Meski demikian, Serma Christian Namo menegaskan tak gentar.
“Cuma dua buat saya, hukuman mati dan pecat. Tidak ada di bawah itu. Nyawa saya taruhan, tentara saya lepas,” tegasnya dikutip dari YouTube Metro TV, Jumat (8/8/2025).
Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang bisa membungkam suaranya.
“Tidak ada yang berani tutup mulut saya, siapapun itu. Untuk kebenaran, untuk keadilan,” ujarnya dikutip dari YouTube Liputan6.
Bahkan, Serma Christian Namo mengaku siap mempertaruhkan nyawanya demi mengejar para pelaku.
“Berani sentuh saya? Nyawa saya taruhan kok. Saya mati dulu baru masalah ini selesai. Selama saya hidup, saya kejar terus,” tandasnya.
Dalam pernyataannya yang penuh emosi, ayah Prada Lucky menyebut bahwa ia tidak takut berhadapan dengan siapa pun, meskipun berpangkat perwira.
“Siapa berani tes mulut saya? Ayo sini, saya lawan. Demi keadilan, saya tentara, silakan jalur tentara. Mengurus keadilan saya mengurus HAM saya sebagai manusia. Dan nyawa saya taruhannya,” tegasnya lagi.
Ia juga berharap para pelaku diberikan hukuman yang setimpal agar tidak ada korban berikutnya.
“Kalau bisa semua dihukum mati, biar tidak ada Lucky Lucky yang lain. Ingat bapak, anak tentara saja dibunuh kok, bagaimana yang lain?,” ujarnya.
Bagi Serma Christian Namo, perjuangan ini bukan sekadar membela anaknya, tetapi juga membela martabat dan kemanusiaan.
“Saya kasih tahu, hidup sekali, mati sekali. Cari nama saya. Saya tidak punya kekuatan, tapi keadilan. Jangankan manusia, Tuhan saja mendukung kok. Yang penting berani. Saya tidak pernah takut siapapun, kecuali Tuhan,” pungkasnya.
Saat ini, empat prajurit telah ditahan oleh Sub Denpom IX/1-1 Ende, namun penyelidikan masih berlangsung.
TNI AD menegaskan tidak akan mentolerir tindakan kekerasan yang mengakibatkan kematian Prada Lucky.
(anf)