Seusai Siti Atikoh jadi perhatian publik, kini giliran Capres nomor 3, Ganjar Pranowo yang menuai perhatian publik karena pesan menohok soal perhelatan pemilu
Di tengah masa kampanye Pilpres, tentu Capres hingga keluarga capres jadi pusat perhatian warganet. Salah satunya aksi joget Siti Atikoh, yang dirujak netizen
ada pemandangan hangat penuh kasih sayang yang ditunjukkan oleh capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo. Usai debat, Ganjar langsung mendatangi para pendukungnya untuk mengucapkan terima kasih.
Eks Panglima TNI yang kini Wakil Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Andika Perkasa membantah pernyataan Komandan Kodim Boyolali Dandim 0724/Boyolali, Letkol inf Wiweko Wulang Widodo, yang menyebut penganiayaan itu akibat dari salah paham.
Istri Ganjar Pranowo, Siti Atikoh senam bersama emak-emak anggota komunitas senam di Komplek Gelanggang Olahraga (GOR) Satria, Purwokerto, Kabupaten Banyumas,
Siti Atikoh Supriyanti, istri dari Ganjar Pranowo menceritakan titik terendah yang mereka alami dalam perjalanan kehidupan, selama menikah dan sebelum menikah
Pesan istri capres nomor urut 3 Ganjar, Siti Atikoh di hari ibu membuat netizen bereaksi di media sosial. Pasalnya, pesan tersebut dia sampaikan dengan menohok
Siti Atikoh Supriyanti istri Calon Presiden Ganjar Pranowo mengikuti pengajian rutin di markas Sabilu Taubah di Desa Karanggayam Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar
Siti Atikoh, istri Ganjar Pranowo, calon presiden nomor urut 03, kampanye di Sidoarjo. Siti Atikoh melakukan kunjungan ke kota-kota besar di Jawa Timur.
Klub Liga Italia Sassuolo memberikan sambutan hangat kepada pelatih timnas Indonesia John Herdman.
John Herdman diketahui menemui kapten timnas Indonesia Jay Idzes dalam sesi latihan Neroverdi.
Seorang anak SD berusia 10 tahun berinisial YBR di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri.
Tragedi kemanusiaan mengguncang tanah air berupa aksi bunuh diri seorang siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial YBR (10) akibat tak mampu membeli buku dan pena.
Fakta-fakta memilukan kelas IV anak SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10 ribu akhirnya terungkap. Dia mengakhiri hidup di pohon cengkeh.