Sama-sama Gunakan Desmosedici GP 2025 di MotoGP 2025, Rider VR46 Jelaskan Alasan Dirinya Tak Bisa Tiru Marc Marquez
- MotoGP
tvOnenews.com - MotoGP kerap memunculkan pertanyaan ketika satu pembalap tampil dominan dengan motor terbaik di grid.
Musim MotoGP 2025 menjadi contoh nyata ketika Marc Marquez tampil luar biasa bersama Ducati Desmosedici GP25.
Namun, performa gemilang Marquez tak otomatis bisa disalin pembalap lain yang memakai motor serupa.
- Facebook/Pertamina Enduro VR46 Racing Team
Francesco Bagnaia dan Fabio Di Giannantonio menjadi sorotan karena kesulitan menjaga konsistensi dengan Ducati Desmosedici GP25.
Fabio Di Giannantonio menilai anggapan meniru setelan pembalap lain bukan solusi sederhana di lintasan.
“Masalahnya adalah setiap pembalap bekerja, mencari, dan berkendara dengan cara yang berbeda,” jelas rider VR46 tersebut.
Pada musim perdananya memakai motor pabrikan, Di Giannantonio mencatat sembilan podium dan finis keenam klasemen.
Meski begitu, ia mengakui tidak pernah meraih kemenangan sepanjang MotoGP 2025.
“Percayalah, saya mempelajari pembalap lain dan mencoba meningkatkan kemampuan di mana pembalap lain lebih baik dari saya.” ujar Diggia.
“Tetapi saya tidak akan pernah bisa mencapai cara kerja atau berkendara mereka yang persis sama. Anda bisa meniru pengaturannya, tetapi kemudian ceritanya akan sangat berbeda jika berkendara dengan pengaturan tersebut.” lanjutnya.
- MotoGP
Di Giannantonio menegaskan meniru Marc Marquez secara utuh justru bisa menjadi bumerang.
Menurutnya, peningkatan performa adalah proses panjang yang melibatkan banyak detail teknis dan gaya berkendara.
“Ini tidak mudah. Ini bukan tentang, ‘Ah, Pecco seharusnya bisa berkendara lebih baik atau tidak perlu mengubah apa pun’.” terang Diggia.
“Tidak selalu seperti itu,” lanjutnya.
Ia juga membela Bagnaia yang hanya meraih dua kemenangan dan finis kelima klasemen akhir.
“Saya ingin sedikit membela pembalap, Pecco… terkadang ini bukan tentang dia. Mungkin mereka hanya mencari hal yang salah. Itu saja. Ini berbeda. Tapi Pecco, yang pasti, tidak kehilangan kemampuan untuk balapan.” pungkasnya.
Bagnaia menutup musim dengan akhir pekan sempurna di Motegi dan kemenangan sprint di Sepang.
Hasil tersebut menegaskan bahwa performa pembalap tak bisa diukur hanya dari satu musim dominasi rival.
Load more