Nasib Megawati Hangestri Dipertaruhkan Jelang Final Four Proliga 2026, Fans Jakarta Pertamina Enduro Desak Hal Ini
- instagram JPEVolley
tvOnenews.com - Sorotan tajam kini mengarah ke internal Jakarta Pertamina Enduro (JPE). Di tengah persaingan sengit menuju final four Proliga 2026, polemik justru mencuat dari dalam tim sendiri.
Nama Megawati Hangestri kembali menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena ketajamannya sebagai mesin poin, tetapi juga karena isu distribusi bola yang dinilai belum maksimal.
Gelombang kritik dari suporter mengemuka setelah sejumlah laga krusial di putaran kedua tak berakhir sesuai harapan.
Fans menilai performa impresif Megawati belum sepenuhnya ditopang oleh suplai umpan yang ideal. Situasi ini memunculkan desakan keras agar manajemen segera melakukan evaluasi sebelum fase final four benar-benar dimulai.
Kritik Tajam untuk Posisi Setter
Desakan agar JPE mengganti setter bukan muncul tanpa sebab. Nama Tisha Amalia Putri menjadi sasaran kritik setelah dinilai kurang mampu menghadirkan umpan presisi untuk Megawati.
Di media sosial hingga tribun GOR Bojonegoro, suara-suara kekecewaan terdengar makin nyaring.
Tagar seperti #GantiSetterJPE dan #JusticeForMega viral dan membanjiri akun resmi klub. Ribuan komentar meminta manajemen segera bertindak tegas demi menjaga peluang juara musim ini.

- instagram JPEVolley
Di atas kertas, JPE sebenarnya diperkuat deretan pemain berkualitas. Megawati menjadi poros utama serangan dengan dukungan pemain asing dan lokal berpengalaman.
Namun di lapangan, suporter melihat adanya hambatan dalam koordinasi antara setter dan eksekutor.
“Mega itu monster di udara, tapi dia butuh ruang. Kalau umpannya terlalu mepet net, dia dipaksa memukul dari sudut sulit,” tulis salah satu penggemar di media sosial, yang mendapat ribuan tanda suka.
Keluhan utama tertuju pada akurasi dan timing umpan. Dalam beberapa pertandingan terakhir, Megawati tampak harus menyesuaikan posisi di udara karena bola terlalu rendah atau terlalu dekat dengan net.
Kondisi ini bukan hanya mengurangi efektivitas serangan, tetapi juga meningkatkan risiko cedera akibat pendaratan yang tidak ideal.
Chemistry yang Belum Padu
Meski kompetisi telah memasuki putaran kedua Proliga 2026, sebagian pendukung merasa chemistry antara Tisha dan Megawati belum benar-benar solid. Harapan besar publik terhadap duet ini belum sepenuhnya terwujud di lapangan.
Perbandingan pun muncul dengan masa ketika Megawati berkarier di Liga Korea Selatan. Saat itu, ia tampil eksplosif berkat dukungan setter berpengalaman yang mampu membaca ritme permainannya.
Di JPE, Mega dinilai harus bekerja ekstra: mengejar bola, menyeimbangkan tubuh, lalu tetap dituntut mencetak poin.
Kekecewaan fans semakin memuncak setelah beberapa laga penting gagal dimaksimalkan. Mereka khawatir ambisi juara musim ini bisa menguap jika distribusi bola tidak segera dibenahi.
Ketergantungan berlebih pada satu pemain juga dinilai berisiko dalam pertandingan-pertandingan penentuan menuju final four.
Efek Domino dan Wacana Rekrutmen Baru
Masalah umpan dinilai berdampak luas pada pola permainan JPE. Tanpa variasi tempo dan arah serangan, lini ofensif dianggap mudah ditebak blok lawan.
Serangan menjadi monoton, sementara kepercayaan diri pemain lain dinilai ikut tergerus.
Meski begitu, Megawati tetap konsisten menjadi mesin poin utama dan bertengger di jajaran top skor musim ini.
Hal tersebut menunjukkan kualitas individunya tak diragukan. Namun publik sadar, untuk menembus final four dan berbicara banyak soal gelar, kerja kolektif jauh lebih menentukan.
Situasi ini membuat manajemen JPE berada di persimpangan. Bertahan dengan komposisi saat ini berarti berharap ada perbaikan internal dalam waktu singkat.
Namun tekanan publik terus menguat, bahkan memunculkan rumor perekrutan setter asal Korea Selatan demi mengulang duet maut seperti saat Megawati berkiprah di luar negeri.
Sebagian suporter juga mengusulkan promosi pemain muda atau opsi transfer instan jika regulasi memungkinkan. Petisi daring pun beredar luas.
“Kami butuh setter yang punya visi juara, bukan sekadar meng-over bola,” tulis salah satu pendukung dalam petisi tersebut.
Kini, menjelang fase krusial final four Proliga 2026, tekanan mental menjadi ujian tersendiri bagi JPE. Peluang juara sejatinya masih terbuka lebar, terutama dengan performa stabil Megawati Hangestri.
Namun perbaikan komunikasi, distribusi bola, dan chemistry antarpemain harus segera diwujudkan.
Satu hal yang pasti, dukungan untuk Megawati tetap mengalir deras. Fans hanya berharap potensi terbaik sang Megatron tidak terhambat oleh persoalan teknis yang sebenarnya bisa dibenahi sebelum segalanya terlambat. (udn)
Load more