Memang Benar Jenazah Tersiksa Akibat Tangisan Keluarga yang setelah Ditinggalkan? Buya Yahya Bilang Begini
- iStockPhoto/mgstudyo
Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah masyarakat Indonesia, sering kali meyakini mitos terkait tangisan keluarga yang tidak ikhlas membuat jenazah tersiksa di alam kubur.
Keyakinan ini kerap kali mencuat terutama ketika berlangsungnya prosesi pemakaman. Tak ayal, banyak keluarga menumpahkan air matanya seusai ada anggota keluarga baru meninggal dunia.
Mengenai hal ini, banyak masyarakat mempercayai larangan anggota keluarga menangis. Bagi yang mengikutinya, bisa membuat almarhum atau almarhumah tenang di alam kubur.
Dalam suatu ceramah KH Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya, pertanyaan mengenai jenazah tersiksa di alam kubur karena tangisan keluarga yang tidak ikhlas muncul dari seorang jemaah.
"Apakah anggota keluarga yang tidak ikhlas saat seseorang sakaratul maut menghambat prosesnya (meninggal dunia). Lalu, air mata salah satu keluarga yang meneteskan air mata pada mayit memberatkan jalan mayit ke alam barzakh?," tanya seorang jemaah kepada Buya Yahya dilansir tvOnenews.com dari Al-Bahjah TV, Selasa (31/3/2026).
Penjelasan Buya Yahya soal Jenazah Tersiksa Akibat Tangisan Keluarga
- Tangkapan layar Youtube Al Bahjah TV
Buya Yahya memahami kepercayaan tersebut sering muncul di berbagai daerah. Anggota keluarga mencoba ikhlas hingga menahan tangis lantaran khawatir berdampak buruk pada jenazah.
Buya Yahya justru bertanya-tanya terkait mitos kepercayaan larangan anggota menangis. Ia ingin mengetahui asal-usulnya berdasarkan syariat agama Islam.
"Jangan menangis, nanti kalau air matamu menetes ke mayat, nanti mayatnya tersiksa, itu bukan? Dari mana ilmu itu?," tanya Buya Yahya.
Ulama kharismatik itu menegaskan bahwa, keluarga yang menangis justru hal manusiawi. Ia pun mendifinisikan arti dari tidak rela yang dilakukan oleh anggota keluarga seusai ditinggal seseorang.
Buya Yahya menjelaskan, definisi tidak rela karena sedih ditinggal anggota keluarga yang meninggal dunia adalah hal lumrah. Namun demikian, apabila tidak ikhlas karena keputusan Allah SWT, maka itu bisa memberikan dosa.
"Yang haram adalah tidak rela dengan keputusan Allah SWT. Contoh marahnya 'Ya Allah kenapa Engkau bunuh dia? Kenapa mematikan dia Ya Allah', itu dosa dia," tutur Buya Yahya.
Ia mencontohkan menangis karena tidak ikhlas setelah seseorang meninggal dunia. Dalam sejarah agama Islam, Nabi Muhammad SAW pernah sedih hingga tak kuasa menahan tangisnya.
Ia menambahkan, kesedihan Nabi Muhammad SAW saat kehilangan hingga ditinggal orang tercintanya. Dalam hal ini, fenomena menangis sudah terjadi di zaman Rasulullah SAW.
"Baginda Nabi SAW saat Sayyidina Ibrahim bin Muhammad, putranya meninggal dunia, beliau menangis," terangnya.
Sebagai ulama, Buya Yahya justru mempersilakan tangisan keluarga menetes. Menurutnya, itu bukanlah suatu yang haram dan bersifat sah kecuali tidak ikhlas karena bertentangan dengan keputusan-Nya.
"Ada orang nangis biarkan menangis. Boleh menangis bagi seorang wanita kalau ada orang yang meninggal dari keluarganya," katanya.
Kata Buya Yahya, hanya saja menangis untuk berduka memiliki batasannya. Ia mengimbau agar orang mukmin tidak boleh menyakiti diri sendiri perkara ditinggal orang tercinta atau keluarga terdekatnya.
"Tapi ingat, jangan merobek baju, jangan memukul wajah, itu tidak boleh. Menangislah, jangan dilarang menangis, Anda siapa? Nabi saja membiarkan umatnya menangis, bahkan selesaikan," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa, tidak ada kepercayaan air mata menetes dapat menyebabkan jenazah tersiksa di alam kubur. Hanya saja Allah SWT akan menghukum mayit itu jika ada air mata yang jatuh akibat tidak menerima keputusan atau takdir ditetapkan oleh-Nya.
Bagi dia, pemahaman seperti ini sudah sangat keliru. Biasanya terjadi di berbagai kampung memunculkan pemahaman tanpa memiliki dasar.
Buya Yahya mengimbau agar ada satu hal yang benar-benar diperhatikan. Wasiat mengarahkan keluarganya menangis secara berlebihan ketika wafat justru merupakan perbuatan yang haram.
"Yang nggak boleh adalah sebelum mati tetapi wasiat. Kebanyakan ngomong begini 'Nak, kalau aku mati nanti, menangis yang benar karena ini wasiat', jusutru itu nggak boleh," tukasnya.
(hap)
Load more