Teks Khutbah Jumat 7 November 2025 Singkat Padat: Para Nabi Itu Pejuang Kemerdekaan yang Hakiki
- Pexels/David McEachan
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ
Artinya: Dan (Kami juga telah mengutus) Luth kepada kaumnya...” (QS. Al-Araf: 80–83)
Nabi Syu’aib ‘alaihis salam pun menyeru kaumnya agar jujur dalam berdagang dan meninggalkan penyembahan berhala. Allah berfirman:
فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ**
Artinya: “Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia...” (QS. Al-A’raf: 85)
Dari kisah para Nabi ini, kita belajar dua hal besar tentang makna kemerdekaan sejati:
1. Merdeka dalam akidah, membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan kepada Allah semata.
2. Merdeka dalam akhlak, membebaskan diri dari hawa nafsu dan perilaku yang merusak martabat manusia.
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)
Rasulullah SAW pun menegaskan:
بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ**
Artinya: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari)
- Pexels/Mohammed Alim
Khutbah Kedua
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sepertiga isi Al-Qur’an berisi kisah para Nabi yang sarat pelajaran, terutama tentang perjuangan mereka dalam memerdekakan umat. Salah satu kisah terbesar adalah perjuangan Nabi Musa ‘alaihis salam melawan Firaun. Tanpa pasukan dan kekuatan duniawi, beliau berani menegakkan kebenaran dengan iman dan tawakkal hingga akhirnya Allah menenggelamkan Firaun di laut.
Load more