Bencana Tanah Bergerak, Warga Sukabumi Terpaksa Tinggalkan Rumah karena Hancur Total
Sukabumi, tvOnenews.com - Ratusan warga di Kampung Cijambe, Kecamatan Bantar Gadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pergerakan tanah yang terjadi sejak beberapa hari terakhir.
Retakan besar terlihat pada dinding dan lantai rumah warga. Bahkan sejumlah bangunan dilaporkan ambruk akibat pergeseran tanah yang masih terus berlangsung.
Data sementara mencatat sedikitnya 25 rumah mengalami rusak berat hingga ambruk. Sementara itu, 65 rumah lainnya mengalami kerusakan sedang hingga ringan. Selain rumah warga, satu bangunan pesantren juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Akibat kejadian ini, ratusan warga mengungsi ke tenda-tenda darurat yang telah didirikan oleh petugas.
Dari total sekitar 355 warga terdampak, sedikitnya 207 orang harus mengungsi di lokasi pengungsian, sementara sebagian lainnya memilih tinggal sementara di rumah kerabat.
Selain kerusakan bangunan, warga juga diliputi kekhawatiran akan potensi pergerakan tanah susulan yang dapat membahayakan keselamatan mereka.
Tim tvOne melaporkan dari lokasi bahwa pergerakan tanah masih terus dirasakan hingga saat ini. Retakan tanah dan suara bangunan yang runtuh masih kerap terdengar di kawasan tersebut.
Bahkan beberapa rumah yang sebelumnya hanya mengalami kerusakan ringan kini kondisinya semakin parah akibat pergeseran tanah yang masih berlangsung.
Pergerakan tanah di Kampung Cijambe dilaporkan mulai terjadi sejak 23 Februari lalu. Hingga saat ini tercatat sebanyak 112 kepala keluarga atau sekitar 367 jiwa terdampak bencana tersebut.
Sebanyak 101 rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat dan tidak lagi layak dihuni oleh pemiliknya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi telah mendirikan sedikitnya 10 tenda darurat untuk menampung warga terdampak.
Para warga di pengungsian masih membutuhkan berbagai bantuan logistik. Meskipun sejumlah bantuan mulai berdatangan, kebutuhan dasar seperti makanan, perlengkapan harian, serta kebutuhan balita masih sangat diperlukan.
Dari total warga terdampak, tercatat terdapat sekitar 51 balita yang membutuhkan perhatian khusus.
Kondisi ini semakin memprihatinkan karena para pengungsi harus bertahan di tenda darurat di tengah cuaca yang sering diguyur hujan.