IRI Indonesia Gandeng Permabudhi Sosialisasikan Panduan Agama dan Rumah Ibadah untuk Jaga Hutan Tropis
- IRI Indonesia
tvOnenews.com, Jakarta – Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia bekerja sama dengan Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) menggelar Peluncuran dan Lokakarya Panduan Ajaran Agama serta Buku Rumah Ibadah, Sabtu (23/8/2025).
Acara yang berlangsung hybrid di Gedung PT Mekar Armada Investama, Jakarta Pusat, dan via Zoom ini menghadirkan pengurus PERMABUDHI, organisasi pemuda Buddha, serta tokoh-tokoh keagamaan.
Ketua Umum Permabudhi sekaligus anggota Advisory Council IRI Indonesia, Prof. Dr. Philip Kuntjoro Widjaja, menegaskan bahwa hutan tropis adalah warisan tak ternilai yang harus dijaga bersama.
“Hutan tropis merupakan tanggung jawab moral umat manusia. Tindakan kita hari ini menentukan masa depan bumi,” tegasnya saat membuka acara.
Prof. Philip juga menyerahkan secara simbolik dua buku panduan IRI dan dua buku khotbah karya tokoh agama Buddha yang difasilitasi IRI Indonesia.
- IRI Indonesia
Dari pihak IRI Indonesia Dr. Hayu Prabowo menekankan pentingnya peran agama dalam menggerakkan masyarakat menyelamatkan lingkungan.
“Sains memberi kita data, tetapi untuk mengubah perilaku kita membutuhkan suara moral dan nilai-nilai agama,” ujarnya.
Hayu mengingatkan bahwa lebih dari 95 persen bencana di Indonesia terkait langsung dengan krisis iklim akibat deforestasi.
Sementara itu Sekjen Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia (MNSBDI) Alim Sudio menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan lintas agama ini. Menurutnya, melindungi alam adalah perwujudan nyata ajaran welas asih.
“Komunitas agama punya otoritas moral dan jaringan untuk memengaruhi kesadaran publik serta kebijakan,” katanya.
Dalam sesi pemaparan Prof. Philip K. Widjaja menyoroti keterkaitan antara deforestasi, perubahan iklim, dan hak masyarakat adat.
Adapun Ketua Permabudhi PD Sulsel Dr. Ir. Yonggris, M.M., sekaligus penulis panduan, menegaskan pentingnya pendekatan Eco Dhamma.
Ia menilai kerusakan hutan adalah krisis moral yang lahir dari keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan.
“Memelihara hutan sama artinya dengan melindungi kehidupan dan mewariskan kebajikan bagi generasi mendatang,” tegas Yonggris.
Setelah sesi pleno, peserta dibagi ke dalam kelompok kerja untuk merumuskan strategi implementasi, mulai dari penyusunan silabus, pengaktifan vihara, hingga advokasi kebijakan.
Load more