Setelah Sekian Dekade, Akhirnya Film "Avatar: The Way of Water" Tayang di Bioskop Indonesia
- dok ist
Seperti yang diketahui, "Avatar" pertama mengubah cara kita menonton sebuah film. Sejak perilisannya di layar lebar, semua film ikut mengadopsi teknologi 3D -- sebuah pencapaian luar biasa dalam perfilman. Kacamata 3D agaknya menjadi salah satu hal yang tak terpisahkan pada era tersebut.
Dan hal itu terjadi lagi 13 tahun kemudian. Sesaat setelah audiens mengenakan kacamata itu, dalam sekejap, itu adalah dunia yang baru, namun juga familier. Dari detik pertama, penonton seakan sudah tahu bahwa film yang mereka tonton saat itu menjadi salah satu pengalaman yang tak akan bisa dilupakan sepanjang tahun.
Kolaborasi Cameron dengan sinematografer Russel Carpenter menjadi perpaduan ciamik untuk membawa dunia "Avatar" kembali hidup. Film menggunakan teknologi High Dynamic Range pada 48f/s yang memanfaatkan kualitas imersif 3D yang disempurnakan untuk memberikan kedalaman gambar.
Dengan aspek teknisnya yang sangat mengesankan, tak berlebihan jika "Avatar: The Way of Water" rasanya harus disaksikan di layar terlebar di bioskop. Di sisi lain, paruh pertama film agaknya masih belum bisa mengajak audiens terlibat secara emosional, karena sutradara masih menggunakan durasi tersebut untuk memperkenalkan latar, tokoh-tokoh baru dan lama, serta konflik yang menyertainya.
Berbicara mengenai karakter yang banyak, sepertinya bukan menjadi masalah besar, mengingat Cameron benar-benar meluangkan waktunya untuk mengenalkan kita pada karakter-karakter baru dan juga mengingatkan kita pada karakter-karakter sebelumnya.
Sama seperti sutradara, para pemeran juga memainkan peran mereka dengan memukau. Mereka semua mendapat sorotan dalam porsi yang tepat. Pengembangan masing-masing tokoh pun dilakukan dengan sangat baik, dan masih memiliki lapisan untuk diungkapkan kemudian.
Durasi yang panjang rasanya menjadi salah satu topik yang membuat calon penonton ragu untuk menyaksikan film ini. Namun, entah mengapa keputusan sutradara untuk membiarkan film berjalan dengan durasi 192 menit itu adalah keputusan yang tepat.
Rasanya, waktu tayang yang panjang itu diperlukan agar cerita dapat berkembang menjadi sebuah pengalaman. Audiens dapat melihat bahwa sutradara benar-benar membuat cerita dengan hati dan ketulusan.
Dengan segala perpaduan aspek teknis dan emosionalnya, membuat waktu berlalu begitu cepat, bahkan rasanya masih kurang dan tak cukup.
Secara keseluruhan, "Avatar: The Way of Water" merupakan karya yang berhasil mengawinkan teknologi, imajinasi, narasi, dan kolaborasi epik dari tiap individu di dalamnya. Namun, pada akhirnya, ketulusan Cameron pada dunia fantasi yang ia ciptakan inilah yang membuat film ini semakin berkesan.
"Avatar: The Way of Water" tayang di bioskop Indonesia mulai 14 Desember 2022. (ant/rka)
Load more