Curahan Hati Dedi Mulyadi, Soroti Masalah di Jawa Barat: Apakah Semua Harus Gubernur?
- YouTube LEMBUR PAKUAN CHANNEL
Ia bahkan menyimpulkan bahwa kondisi ini berpotensi melahirkan masyarakat yang sama-sama tertekan, baik rakyat maupun pemimpinnya.
“Akhirnya lahirlah sebuah komunitas masyarakat, pemimpin dan rakyatnya sama stresnya. Itu pertama,” tegas Dedi Mulyadi.
Masalah kedua yang disorot adalah dugaan aktivitas ilegal terkait pengangkutan tanah di wilayah Subang hingga perbatasan Purwakarta.
“Yang kedua saya melihat ada tumpukan tanah dari mulai tikungan SMP Negeri 1 Cipeundeuy sampai Pasar Cipeundeuy sampai perbatasan Purwakarta. Saya melihat ada mobil berbaris mengangkut tanah dari mana? Dari sini mau diangkut ke mana? Ke PIK dia sudah nongkrong selama 1 hari 1 malam karena uang jalannya tidak turun. Dan saya minta untuk tanahnya dikembalikan lagi ke awalnya. Saya yakin ilegal,” ujarnya.
Dari temuan itu, ia mempertanyakan peran aparat di tingkat bawah yang dinilai belum maksimal.
“Pertanyaan saya adalah kita ini punya aparat di desa ada kepala desa, ada Babinsa, ada Bhabinkamtibmas. Kenapa hal ilegal seperti dibiarkan? Apa fungsi kita? Apakah semua harus gubernur?” katanya.
Tak hanya itu, Dedi juga menyinggung soal makna kecintaan terhadap tanah air yang menurutnya harus diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga lingkungan.
“Padahal setiap hari kita mendeklarasikan diri bahwa kita cinta tanah air. Kalau kita cinta tanah air, maka diri kita punya empat keterikatan. Dia terikat oleh tanahnya, dia terikat oleh airnya, dia terikat oleh udaranya, dan dia terikat oleh mataharinya. Jadilah manusia Indonesia seutuhnya dan jadilah insan kamil dalam etika ajaran Islam,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan menjadi indikator lemahnya komitmen terhadap bangsa.
“Jadi ketika manusia siapapun dia, apapun dia ketika dia tidak tersentuh oleh perusakan tanah, dia tidak tersentuh oleh perusakan air, dia tidak tersentuh oleh perusakan udara, dia tidak tersentuh oleh rusaknya matahari. Sesungguhnya manusia itu bukan manusia Indonesia. Bohong dia mencintai NKRI,” tegasnya.
Lebih jauh, Dedi mengkritik pola pikir birokrasi yang dianggap terlalu normatif dan berorientasi pada zona aman.
“Kenapa kita harus mulai merubah paradigma kehidupan yang serba formalistik. Enggak ada kemajuan Subang, tidak akan ada kemajuan Jawa Barat kalau apa? Cara berpikir kita semua normatif,” katanya.
Load more