Curahan Hati Dedi Mulyadi, Soroti Masalah di Jawa Barat: Apakah Semua Harus Gubernur?
- YouTube LEMBUR PAKUAN CHANNEL
tvOnenews.com - Curahan hati Dedi Mulyadi mendadak menyita perhatian publik. Dalam sebuah momen penting di Subang, ia melontarkan kritik tajam yang menyentil berbagai persoalan mendasar di Jawa Barat. Pertanyaan retorisnya pun menggema, "apakah semua persoalan harus diselesaikan oleh gubernur?"
Pernyataan tersebut disampaikan saat peringatan Hari Jadi ke-78 Kabupaten Subang pada 5 April 2026. Dalam pidatonya, Dedi Mulyadi menyoroti pentingnya keberanian dalam membangun daerah, tanpa terjebak pada formalitas administrasi semata.
Momentum itu juga berdekatan dengan ulang tahunnya yang ke-55 pada 11 April 2026, yang dirayakan bersama warga di Lembur Pakuan Subang dan ditayangkan melalui kanal YouTube Lembur Pakuan Channel. Dalam suasana tersebut, Dedi menyampaikan refleksi mendalam yang cukup mengejutkan.
![]()
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat. (Sumber: YouTube LEMBUR PAKUAN CHANNEL)
Ia mengawali dengan pengakuan pribadi soal rutinitasnya menyelesaikan persoalan di lapangan sejak pagi hari.
“Saya dari tadi itu merenung dan tadi saya cerita ke bupati, saya mohon maaf saya terlambat kurang lebih 1 jam, karena saya biasa jam 05.00 pagi sudah jalan dan menyelesaikan berbagai problem yang terlihat oleh mata saya,” ujar Dedi Mulyadi.
Sorotan pertama Dedi tertuju pada kondisi lalu lintas di daerah industri yang dinilainya memicu stres masyarakat sejak pagi hari.
“Pertama, sebuah daerah yang menuju industri saat pagi orang mengalami depresi. Di mana depresinya? Orang mau pergi ke pabrik, orang mau pergi ke kantor, orang mau pergi ke sekolah, di jalan harus bertarung dengan kontainer besar,” kata Dedi Mulyadi.
Ia menilai kondisi tersebut berdampak luas, mulai dari pekerja hingga pelajar.
“Stres terjadi pada para pegawai, stres terjadi pada anak sekolah. Sehingga saya tadi langsung telepon Dirlantas, bisa enggak di daerah seluruh Provinsi Jawa Barat kontainer mobil sumbu tiga itu diatur pada saat jam pagi menuju sekolah, menuju pabrik, tidak dulu masuk daerah lalu lintas dan lintasan,” jelasnya.
Menurutnya, suasana yang penuh tekanan sejak dari rumah hingga perjalanan akan berdampak pada produktivitas.
“Kenapa? Agar membangun sebuah daerah di mana masyarakatnya bisa refresh menuju tempat kerja. Saya sih melihat sulit kita mencapai keberhasilan di sekolah, mencapai keberhasilan di tempat kerja karena di rumahnya sudah stres, di jalan sudah stres, di tempat kerja sudah stres, di sekolah sudah stres,” ungkapnya.
Load more