5 Dampak Besar Penutupan Selat Hormuz bagi Indonesia, dari Harga BBM hingga Ekonomi Nasional
- Freepik
Kondisi ini berisiko menekan rupiah hingga melemah tajam terhadap dolar.
Rupiah yang melemah akan memperbesar biaya impor bahan baku industri, meningkatkan harga produk lokal, dan menurunkan daya saing ekspor.
Selain itu, investor asing bisa menarik modalnya dari pasar Indonesia, menimbulkan gejolak di sektor keuangan.
Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia mungkin terpaksa menaikkan suku bunga untuk menahan tekanan, meski berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
4. Risiko terhadap Stabilitas Ekonomi dan APBN
Tekanan terhadap APBN menjadi tak terelakkan. Pemerintah harus menyesuaikan belanja negara, antara lain dengan mengalokasikan dana tambahan untuk subsidi energi.
Di sisi lain, pendapatan negara berpotensi berkurang karena perlambatan ekonomi.
Krisis berkepanjangan bisa memaksa pemerintah mengalihkan anggaran pembangunan dan program sosial ke sektor energi, demi menjaga stabilitas fiskal.
Kondisi ini akan menghambat proyek infrastruktur dan pembangunan jangka panjang.
5. Ancaman terhadap Ketahanan Energi Nasional
Penutupan Selat Hormuz menjadi sinyal betapa rentannya ketahanan energi Indonesia terhadap krisis global.
Ketergantungan tinggi pada impor minyak dan gas dari Timur Tengah membuat Indonesia sangat mudah terguncang oleh konflik geopolitik.
Krisis semacam ini menegaskan pentingnya percepatan transisi energi dan diversifikasi sumber pasokan.
Pemerintah perlu memperkuat cadangan energi strategis nasional, mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), dan menjalin kerja sama energi dengan negara-negara di luar kawasan Timur Tengah.
Kemandirian energi menjadi kunci agar Indonesia lebih tangguh menghadapi gejolak global. (adk)
Load more