Pesan Terakhir Mendiang Meri Hoegeng: Jangan Pernah Gunakan Fasilitas Dinas untuk Kepentingan Pribadi
- Polres Kulonprogo
tvOnenews.com - Kepergian Meriyati Roeslani Hoegeng, atau yang akrab disapa Eyang Meri, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Indonesia.
Istri dari Kapolri ke-5 Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso ini dikenal sebagai sosok sederhana, tegas, dan memiliki prinsip hidup yang kuat.
Di balik ketegasan Hoegeng sebagai figur polisi paling jujur, berdiri sosok perempuan tangguh yang menjaga nilai-nilai integritas dalam keluarga mereka.
Salah satu pesan yang paling diingat oleh anak-anaknya, terutama Aditya Sutanto Hoegeng, adalah pesan sederhana namun bermakna besar.
“Nasihat-nasihat yang ke anak-anak itu sulit. Kita tidak pernah merasakan fasilitas, tidak boleh mempergunakan fasilitas dinas, dan itu semua ayah sampaikan ke ibu, ibu turunkan ke kami,” ujar Aditya seusai pemakaman Eyang Meri di Makam Giri Tama, Kecamatan Tajurhalang, Bogor.
Pesan itu menjadi warisan moral yang kuat, menggambarkan bagaimana keluarga Hoegeng berpegang pada nilai kejujuran dan etika yang tinggi.
Selama hidupnya, Meri Hoegeng dikenal sebagai sosok yang tidak hanya setia mendampingi sang suami dalam suka dan duka, tetapi juga menjaga nama baik keluarga dengan cara hidup yang bersih dari penyalahgunaan jabatan maupun fasilitas negara.
Aditya juga mengenang ibundanya sebagai pribadi yang penyabar dan penuh kasih.
Ia mengungkapkan, meski tegas dalam mendidik anak-anak, sang ibu tidak pernah menggunakan kekerasan fisik dalam memberikan pelajaran hidup.
“Tapi kata-katanya, nasihatnya, itu yang sangat dalam buat kita. Dan kami anak-anak, tidak ada kata lain untuk beliau. Di belakang orang yang kuat seperti almarhum, terdapat orang yang hebat, yaitu Ibu Meriyati Hoegeng,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Selama hidupnya, Meri Hoegeng dikenal publik sebagai sosok yang mendukung sepenuhnya nilai-nilai integritas yang dijunjung tinggi oleh Hoegeng Iman Santoso.
Ia tidak pernah ikut menikmati fasilitas atau keistimewaan yang sering kali melekat pada posisi tinggi sang suami.
Sebaliknya, Meri justru menjadi penjaga moral di dalam keluarga.
Terkait penghargaan yang diberikan kepada ibundanya, Aditya menjelaskan bahwa keluarga tidak pernah meminta atau mendorong hal tersebut.
Ia menegaskan bahwa segala bentuk penghargaan yang diterima oleh mendiang ibunya maupun almarhum ayahnya merupakan bentuk pengakuan tulus dari masyarakat atas keteladanan mereka.
“Jadi dinilai oleh masyarakat sendiri, bukan kami. Kami hanya menjalani apa yang disampaikan oleh Almarhum Bapak dan diteruskan oleh Ibu,” ujarnya.
Selain pesan soal integritas, Meri juga mewariskan nilai kesederhanaan kepada anak-anaknya.
Aditya mengungkapkan bahwa ibundanya selalu menekankan pentingnya hidup tenang, tidak berlebihan, dan tetap fokus pada kebaikan.
“Santai saja kita jalani seperti air. Kita tentu harus bantu Bapak. Bapak posisinya cukup sulit dan selalu menjadi sorotan. Kalau kita tidak jaga itu susah,” tuturnya.
Meri Hoegeng tutup usia di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Selasa (3 Februari 2025) pukul 13.25 WIB di usia 100 tahun.
Ia sempat menjalani perawatan intensif sebelum mengembuskan napas terakhir.
Jenazah kemudian disemayamkan di Pesona Khayangan, Depok, sebelum dimakamkan keesokan harinya.
Kisah hidup dan pesan terakhir Eyang Meri kini menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Di tengah zaman yang serba mudah tergoda oleh jabatan dan fasilitas, prinsip kejujuran dan kesederhanaan yang diwariskan keluarga Hoegeng menjadi cerminan nyata bahwa integritas sejati dimulai dari rumah. (adk)
Load more