Penunggu Rumah Buto Ijo, Film Horor Keluarga dengan Sentuhan Cerita Rakyat Nusantara, Begini Kisahnya
- instagram ruangfilm
tvOnenews.com - Perkembangan film horor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan arah yang semakin beragam. Jika sebelumnya genre ini identik dengan adegan kekerasan, teror brutal, dan visual ekstrem, kini mulai muncul karya-karya yang menawarkan pendekatan berbeda.
Horor tidak lagi semata-mata mengandalkan darah dan kejutan berlebihan, tetapi juga membangun suasana, cerita, serta kedekatan emosional dengan penonton. Tren ini membuka ruang baru bagi film horor yang bisa dinikmati lebih luas, termasuk oleh keluarga.
Di tengah arus tersebut, sineas Indonesia mulai mengeksplorasi akar budaya lokal sebagai sumber cerita. Legenda rakyat, mitos daerah, hingga kisah-kisah yang hidup di masyarakat diolah ulang dengan sentuhan modern.
Pendekatan ini tidak hanya memperkaya narasi horor, tetapi juga menghadirkan pengalaman menonton yang lebih kontekstual dan dekat dengan keseharian penonton Indonesia. Dari sinilah film Penunggu Rumah: Buto Ijo mengambil posisi yang cukup menarik.
Melansir dari Ruangfilm dan Tix, kisah ini hadir sebagai upaya menghadirkan horor yang lebih ramah bagi anak dan keluarga, tanpa kehilangan unsur misteri dan ketegangan.
Alih-alih menonjolkan kekerasan visual, film ini memilih membangun atmosfer mencekam secara perlahan, sehingga dapat dinikmati lintas usia. Pendekatan tersebut membuat Penunggu Rumah: Buto Ijo tampil berbeda dibandingkan kebanyakan film horor lokal yang beredar saat ini.
Horor Keluarga Berbasis Cerita Rakyat Nusantara
Diproduseri oleh Gandhi Fernando, Penunggu Rumah: Buto Ijo mengangkat cerita rakyat Nusantara yang sudah dikenal luas, lalu dikemas dalam balutan horor modern yang ringan.
Sosok Buto Ijo yang lekat dengan dongeng tradisional dihadirkan bukan sebagai teror berdarah, melainkan sebagai sumber misteri yang membangun rasa penasaran.
Cerita disusun agar mudah dipahami, sehingga anak-anak maupun penonton dewasa dapat mengikuti alurnya tanpa merasa terintimidasi.
Sejak awal pengembangannya, film ini memang dirancang sebagai horor yang aman ditonton bersama keluarga. Tidak ada eksploitasi adegan sadis atau kekerasan keji. Fokus utama diletakkan pada suasana, permainan bunyi, serta visual yang membangun ketegangan secara halus.
Pendekatan ini menjadi alternatif menarik bagi penonton yang ingin menikmati horor tanpa harus merasa tidak nyaman.
Pilihan cerita rakyat sebagai fondasi juga memperkuat identitas film ini. Selain menghadirkan hiburan, film ini berupaya memperkenalkan kembali kekayaan budaya Nusantara kepada generasi muda.
Unsur tradisi dan mitos lokal menjadi bagian penting dari narasi, sekaligus mempertegas bahwa horor Indonesia memiliki sumber cerita yang sangat kaya.
Dari sisi pemeran, film ini didukung oleh nama-nama yang cukup dikenal, seperti Celine Evangelista, Gandhi Fernando, Valerie Thomas, Meryem Hasanah, dan Adnan Djani.
Para pemain tampil dengan pendekatan akting yang relatif natural, menyesuaikan dengan tone cerita yang ringan namun tetap menegangkan. Interaksi antartokoh dibangun untuk mendukung nuansa kekeluargaan, sehingga konflik terasa lebih dekat dengan penonton.
Atmosfer menjadi kekuatan utama film ini. Ketegangan tidak dibangun lewat kejutan mendadak semata, melainkan melalui suasana rumah, pencahayaan, dan ritme cerita yang perlahan meningkat. Pendekatan ini membuat rasa takut yang dihadirkan lebih bersifat psikologis dan imajinatif, sehingga tetap efektif tanpa harus menampilkan visual ekstrem.
Selain itu, film ini juga menyisipkan pesan tentang keberanian, pentingnya kebersamaan keluarga, serta penghargaan terhadap nilai-nilai budaya lokal. Pesan-pesan tersebut disampaikan secara sederhana dan tidak menggurui, sehingga tetap menyatu dengan alur cerita.
Penunggu Rumah: Buto Ijo dapat dipandang sebagai eksperimen yang relevan di tengah dominasi horor keras di bioskop Indonesia. Kehadirannya menunjukkan bahwa genre horor memiliki spektrum yang luas dan tidak harus selalu mengandalkan kekerasan untuk menarik penonton.
Film ini menawarkan pilihan tontonan yang lebih inklusif, khususnya bagi keluarga yang ingin menikmati film horor bersama.
Dengan pendekatan yang lebih aman, ringan, dan berakar pada budaya lokal, Penunggu Rumah: Buto Ijo berpotensi menjadi pintu masuk bagi penonton muda untuk mengenal genre horor secara positif, sekaligus menjadi angin segar bagi perkembangan sinema horor Indonesia. (udn)
Load more