Cristian Rontini Rela 'Mualaf' Demi Nikahi Anak Legenda Timnas Indonesia, Tangan Kanan Patrick Kluivert Mundur?, Hingga Media Irak Ogah Segrup dengan Skuad Garuda
- dok.tvOnenews.com/Taufik Hidayat
tvOnenews.com - Timnas Indonesia kembali menjadi pusat perhatian di tengah persiapan menghadapi ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Skuad Garuda telah mencetak sejarah dengan berhasil lolos ke babak penting ini dan kini bersiap menghadapi lawan-lawan berat seperti Arab Saudi, Qatar, Irak, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Dalam momen krusial ini, muncul tiga sorotan utama: kisah personal mantan pemain Liga 1 Cristian Rontini, isu kepergian tangan kanan Patrick Kluivert dari skuad Garuda.
Serta pernyataan mengejutkan dari media Irak yang mengundang tawa dan haru para suporter Indonesia.
Rangkaian kabar ini muncul di saat posisi Timnas Indonesia berada di pot ketiga bersama Oman, dalam pembagian grup yang akan diumumkan pada 17 Juli 2025.
Format ronde keempat ini akan mempertemukan dua grup berisi masing-masing tiga tim, di mana hanya juara grup yang akan lolos langsung ke Piala Dunia 2026. Sedangkan runner-up harus bertarung di babak playoff.

- Kolase foto Patrick Kluivert dan para pemain Timnas Indonesia
Momen ini tentu menjadi kesempatan bersejarah bagi Garuda, namun juga membawa berbagai dinamika di dalam dan luar lapangan.
Berikut 3 artikel terpopuler soal Timnas Indonesia menjelang round 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026.
1. Masih Ingat Cristian Rontini? Rela Jadi Mualaf Demi Nikahi Anak Legenda Timnas Indonesia
Cristian Rontini, bek Filipina berdarah Italia yang pernah membela Persita Tangerang dan Madura United, kembali jadi perbincangan publik.
Bukan karena aksinya di lapangan, tetapi karena kisah spiritual dan romantisnya. Pada 2023 lalu, ia memutuskan untuk menjadi mualaf dan mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di Tangerang.

- dok.kolase tvOnenews.com
Rontini melakukannya bukan semata karena agama, tetapi juga cinta. Ia ingin menikahi Amanda Gonzales, anak dari legenda sepak bola Indonesia, Cristian Gonzales.
“Setelah saya mualaf, karier saya naik,” kata Gonzales, seperti dikutip dari tayangan Rumpi Trans TV November 2023.
Ucapan ini menjadi inspirasi bagi Rontini yang kini memiliki nama muslim Yasser Ali. Istri Gonzales, Eva Siregar, menuturkan bahwa keluarga mereka memang sering berdiskusi tentang agama dan sepak bola.
Amanda dan Rontini menikah setelah ia resmi masuk Islam, menjadikan keluarga ini sebagai simbol integrasi antara karier dan spiritualitas.
Tak hanya kisah cinta, Cristian Gonzales juga menunjukkan kecintaannya pada sepak bola tanah air dengan berencana membangun sekolah sepak bola terbesar di Indonesia.
“Setelah mimpi almarhum papa saya terwujud, kini saatnya mewujudkan mimpi saya,” tulisnya di akun Instagram @el_locogoliadorcg10_, pada 5 Februari 2025.
Meski sudah tidak aktif membela timnas, Gonzales tetap berkontribusi demi masa depan sepak bola nasional.
2. Tangan Kanan Patrick Kluivert Mundur dari Timnas Indonesia? Diincar Ajax Amsterdam
Di tengah euforia lolos ke babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, kabar mengejutkan datang dari staf pelatih Timnas Indonesia.
Denny Landzaat, asisten utama Patrick Kluivert, dilaporkan menjadi incaran Ajax Amsterdam untuk bergabung sebagai staf pelatih.

- tvOnenews.com/Taufik Hidayat
Rumor ini diberitakan oleh Transfermarkt pada 16 Juni 2025, menyebut bahwa Denny sedang dipertimbangkan menjadi asisten Johnny Heitinga, pelatih utama Ajax.
“Salah satu sumber terpercaya menyebutkan jika Denny mendapat tawaran untuk bergabung ke tim kepelatihan Ajax,” tulis Transfermarkt.
Jika benar, kepergian Denny bisa jadi pukulan telak bagi skuad Garuda, mengingat perannya sangat vital dalam membangun strategi dan mentalitas tim.
Sejauh ini belum ada konfirmasi resmi dari PSSI maupun Ajax, tetapi kabar ini mengganggu fokus jelang laga penting.
Landzaat sendiri punya rekam jejak impresif sebagai pelatih, pernah menjadi asisten di berbagai klub Eropa seperti AZ Alkmaar U-21, Feyenoord, Willem II, dan klub-klub top di Polandia hingga Arab Saudi.
Ia bergabung dengan PSSI awal 2025, dan langsung berperan besar dalam keberhasilan Timnas Indonesia menembus ronde keempat.
3. Sentimen Media Irak: "Kami Tak Ingin Segrup dengan Indonesia"
Pernyataan mengejutkan datang dari media Irak, @iraqis_ir, yang mengungkap harapan agar negaranya tidak satu grup dengan Indonesia dalam undian ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Alasannya bukan meremehkan, melainkan karena keinginan melihat kedua negara lolos bersama ke putaran final.

- REUTERS/Thaier Al-Sudani
“Kami berharap tidak berada satu grup dengan tim nasional Indonesia yang bersaudara… karena kami ingin pergi ke Piala Dunia bersama,” tulis media tersebut dalam unggahan Instagram-nya.
Pernyataan ini sontak mengundang senyum dari suporter Indonesia, banyak yang membalas dengan komentar positif dan dukungan balik terhadap Irak.
Media itu juga membahas performa Irak dalam laga sebelumnya melawan peserta lain di ronde keempat. Irak mengalahkan Indonesia dua kali di putaran kedua tahun 2024, serta sukses menjungkalkan Oman dan UEA.
Meski demikian, mereka kalah dari Qatar dan Arab Saudi. Ini menegaskan bahwa persaingan di ronde keempat akan berlangsung ketat dan tak bisa diprediksi.
Timnas Indonesia sendiri akan menjalani laga-laga ronde keempat pada 8–14 Oktober 2025, di Qatar dan Arab Saudi, dalam format turnamen sentral.
Dengan penempatan di pot 3 bersama Oman, skuad Garuda berpeluang besar bertemu tim kuat seperti Qatar, Arab Saudi, Irak, atau UEA.
Hanya juara grup yang otomatis lolos, sementara peringkat kedua harus berjuang di babak playoff. Oleh karena itu, stabilitas tim termasuk staf pelatih seperti Landzaat akan sangat krusial.
Rangkaian kisah di atas memperlihatkan bagaimana perjalanan Timnas Indonesia tidak hanya soal pertandingan di lapangan, tetapi juga tentang cerita manusia, ambisi pribadi, dan diplomasi sepak bola.
Dari kisah inspiratif Cristian Rontini yang memilih jalan hidup baru demi cinta dan spiritualitas, hingga tantangan yang dihadapi Patrick Kluivert jika kehilangan asistennya.
Serta harapan negara lain seperti Irak untuk maju bersama, semuanya membentuk dinamika menjelang babak paling krusial menuju Piala Dunia 2026.
Kini, tinggal bagaimana PSSI, pelatih, pemain, dan seluruh suporter bisa menjaga momentum ini.
Karena seperti kata media Irak, Timnas Indonesia bukan hanya lawan, tetapi saudara yang ingin pergi bersama ke panggung tertinggi sepak bola dunia. (udn)
Load more