Di Balik Gemerlap Jakarta, Kampung Tanpa Sinar Matahari Buat Warganya Tak Kenal Malam dan Hidup Berhimpitan
- tvOneNews
Jakarta, tvOnenews.com - Jakarta dikenal sebagai kota metropolitan. Kota yang tidak pernah tidur di tengah gemerlap lampu, gedung tinggi hingga kehidupan modern.
Namun di balik urbanisasi Jakarta, terdapat realita lain yang masih tersembunyi dan jarang tersorot. Ada sebuah kampung padat terhimpit bangunan raksasa di Jakarta.
Di Kampung Rawa, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, sinar matahari nyaris tidak tersentuh sama sekali. Merujuk dari laman Data Penduduk Jakarta Pusat, 25.315 warga kampung ini harus hidup berhimpitan di tengah tanah seluas 30,11 hektare.
Seorang warga Kampung Rawa, Murokhai menjelaskan, gang membentuk lorong sudah dianggap biasa oleh warga. Mereka harus bergantian saat saling berpapasan memasuki area tersebut.
"Berdempetan suka kesenggol. Biasanya pada miring badannya," ujar Murokahi saat diwawancarai Tim tvOne, Senin (30/3/2026).
Akses Masuk Kampung Rawa Jakarta Pusat
- tvOneNews
Lebih lanjut, Murokhai mengatakan, biasanya warga saling mengerti. Perlintasan memasuki kawasan kampung dijuluki tanpa sinar matahari itu hanya bermuatan satu orang.
Bahkan, kata dia, akses kendaraan motor saja tidak bisa masuk lantaran gang hanya berbentuk lorong. Maka dari itu, para warga sudah mengerti dengan kondisi tersebut.
"Iya satu orang ganti-gantian. Kalau ini nggak bisa soalnya sempit," terangnya.
Selaras dengan Murokhai, warga lainnya bernama Titin mengatakan, dirinya dan keluarga bak merasakan antrean tiket masuk wisata. Gang membentuk labirin tidak dapat dimasuki banyak orang.
"Yang satu dulu miring sampai keluar, yang satu lagi berhenti, baru kita masuk," tuturnya.
Titin mengaku kondisi seperti itu tidak boleh terjadi terus-menerus. Warga kampung dijuluki tanpa sinar matahari itu minimal bisa merasakan hidup nyaman.
"Biar nggak ada gang seperti itu gimana caranya. Semoga aja ada perbaikan," harap dia.
Hidup di Rumah Sepetak dalam Gang Gelap Jakarta
Di sisi lain, para warga harus tinggal di rumah yang hanya berukuran sepetak. Bahkan luas gang tidak sampai satu meter menutupi ruang cahaya matahari setiap waktu.
Sebuah keluarga yang dipimpin oleh Minah (54), salah satu warga asli Kampung Rawa harus hidup berhimpitan di sepetak gang gelap itu.
Minah mengaku dirinya sudah dari lahir tinggal di rumah sepetak. Di sana, ia merasakan hidup yang pahit dan kejam di tengah kondisi itu selama 54 tahun.
Minah dan keluarga memaksakan aktivitasnya di tengah labirin. Selama 54 tahun, ia tidak pernah sedikitpun mendapat cahaya matahari di halaman rumahnya.
Meski demikian, Minah sudah terbiasa dengan kondisi terpencil ini. Walau tidak seberuntung dengan yang lain, ia tetap menjalani aktivitas sehari-harinya.
"Kayak biasa orang-orang aja kita sudah biasa. Waktunya cuci piring ya cuci piring, waktunya mandi ya kita mandi, nggak ada gangguan," ucap Minah.
Minah memahami setiap kali mencuci pakaian memikirkan cara mengeringkannya. Hal ini mengingat tempat tinggalnya di tengah kondisi lembap dan tak tersentuh nikmatnya cahaya matahari.
Namun begitu, Minah harus menaiki atap bangunan tempat tinggalnya. Tujuannya tentu agar kering dengan cepat saat terkena cahaya sinar matahari.
"Enggak jemur di depan rumah karena kan nggak kering. Kalau di atas, ada hawa sedikit jadinya bisa kering. Misalnya hari ini mencuci pakaian, besok kering biasanya sore," bebernya.
Sirkulasi Udara Terbatas
Lebih lanjut, Minah menjelaskan, rumah yang ditinggali olehnya seluas 3x4 meter dibangun menjulang tinggi. Ia harus hidup bersama tiga anak setelah suami meninggal dunia.
Di dalam bangunan itu, Minah dan keluarga menempatkan toilet dan ruang bersih di belakang rumahnya. Meski sempit, ia tetap menatanya dengan rapi.
Kemudian, Minah dan warga harus hidup di tengah keterbatasan sirkulasi udara. Ia menganggap sirkulasi sebagai barang mahal akibat kondisi gang yang lembap dan pengap.
Warga mau tak mau harus memasang kipas angin. Kata Minah, kipas angin menjadi penyambung napas agar tetap mendapatkan udara.
Meski seolah tak punya pilihan, warga harus beradaptasi dan berdamai dengan menggantungkan kebutuhan sirkulasi udara lewat kipas angin hingga cahaya lampu yang hidup selama 24 jam.
Minah menyampaikan harapan terpendamnya kepada Pemprov Jakarta. Ia hanya menginginkan pemerintah menengok kondisi rumah di Kampung Rawa yang bertahun-tahun hidup di tengah gelap gulita.
"Ingin sekali ada pembaharuan, ada bantuan dari pemerintah minimal mencari solusi terhadap bangunan-bangunan di sini," tukas Minah.
(hap)
Load more