Percepat Implementasi FTA Indonesia-EAEU, Kadin Targetkan Perdagangan Naik 2 Kali Lipat
- Kadin Indonesia
Jakarta, tvOnenews.com - Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Indonesia mendorong percepatan implementasi perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Eurasian Economic Union (EAEU) guna meningkatkan nilai perdagangan hingga dua kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.
Upaya tersebut dibahas dalam agenda Russia-Indonesia Workshop on Eurasian Economic Union (EAEU)-Indonesia Free Trade Agreement (FTA) in Practice: Rules, Procedures and Tips for Businesses yang digelar di Menara Kadin Indonesia pada Jumat (10/4/2026).
Forum ini menghadirkan Deputy Minister of Economic Development of the Russian Federation Vladimir Ilichev untuk membahas implementasi FTA yang telah ditandatangani Indonesia pada akhir 2025.
Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Perjanjian Luar Negeri Kadin Indonesia Pahala Mansury menyatakan, kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk mendorong pelaku usaha memanfaatkan perjanjian tersebut.
“Indonesia sudah menandatangani sebuah perjanjian FTA dengan anggota-anggota Eurasian Economic Community dan diharapkan perdagangan bisa meningkat sampai dengan 2 kali lipat dalam waktu 3 tahun,” ujar Pahala, dikutip Minggu (12/4/2026).
Ia menjelaskan, nilai perdagangan Indonesia dengan negara anggota EAEU, yakni Armenia, Belarusia, Kazakstan, Kirgistan, dan Rusia, saat ini berada di kisaran 5 miliar dolar AS.
Dengan adanya penurunan tarif dan hambatan non-tarif, peluang peningkatan perdagangan dinilai terbuka lebar.
Menurutnya, terdapat tiga sektor utama yang berpotensi menjadi pendorong utama, yaitu komoditas pangan, energi termasuk hilirisasi mineral, serta industri padat karya.
“Ada 3 sektor (yaitu) food related commodities seperti CPO, gandum, fertilizer. Sektor energi termasuk hilirisasi mineral, serta labor intensive industry seperti tekstil, garment, machinery dan electronics,” katanya.
Meski prospeknya besar, Pahala mengakui masih ada sejumlah kendala dalam implementasi kerja sama, terutama terkait sistem pembayaran dan infrastruktur keuangan lintas negara.
Ia menilai teknologi finansial dapat menjadi solusi untuk mengatasi hambatan tersebut.
“Fintech seperti blockchain, digital asset, crypto bisa menjadi salah satu solusi,” katanya.
Selain itu, penguatan infrastruktur rantai pasok, termasuk logistik, distribusi, dan penyimpanan, dinilai penting agar potensi kerja sama dapat dimaksimalkan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI Djatmiko Bris Witjaksono yang mewakili Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menyampaikan bahwa posisi Indonesia dalam perdagangan dengan EAEU masih berada di bawah beberapa negara ASEAN.
Load more