Isu Kelangkaan BBM Picu Keresahan Publik, DIR Bongkar Fakta soal Memanasnya Persepsi yang Jadi Pemantik
- Dok. DIR
Kekhawatiran publik terutama berkaitan dengan potensi kenaikan harga, ancaman kelangkaan, serta dampak situasi global terhadap energi nasional.
DIR juga menemukan bahwa emosi publik didominasi oleh fase “anticipation” atau kewaspadaan. Kondisi ini menunjukkan masyarakat sangat aktif memantau perkembangan isu dan bersiap menghadapi kemungkinan perubahan.
“Emosi ‘anticipation’ yang terlalu tinggi seringkali menjadi pemicu panic buying,” ujar Neni.
Selain itu, munculnya kata kunci seperti “kenaikan”, “krisis”, dan “penghematan” mencerminkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap tekanan energi.
Sementara itu, narasi global seperti konflik geopolitik dan kebijakan adaptif seperti work from home (WFH) turut memengaruhi arah percakapan publik.
DIR menilai, kondisi ini perlu direspons dengan strategi komunikasi yang tepat. Pemerintah didorong untuk mengalihkan fokus narasi dari isu global yang memicu kecemasan ke kesiapan layanan domestik agar mampu meredam kekhawatiran masyarakat.
“Pemerintah perlu membaca dan mengetahui situasi percakapan di ruang publik agar dalam menyampaikan komunikasi dan informasi berbasis data akurat, hati-hati, mengedepankan etika dan kepekaan rakyat di tengah situasi yang penuh dengan tantangan serta tingginya ketidakpastian,” kata Neni.
DIR juga merekomendasikan pemanfaatan narasi WFH sebagai kampanye hemat energi yang bersifat persuasif guna menekan konsumsi BBM pada periode puncak.
Laporan DIR menyimpulkan, bahwa pengelolaan komunikasi publik menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas isu BBM.
Maka, guna mengontrol persepsi negatif yang berpotensi berkembang menjadi kepanikan massal meski kondisi pasokan tetap aman, pemerintah perlu strategi komunikasi yang tepat. (rpi)
Load more