Bank Sentral Borong Emas, HPE Periode Awal Maret 2026 Menguat di Tengah Gejolak Ekonomi Global
- Istimewa
Dalam periode penghitungan yang sama, kinerja beberapa komoditas tambang menunjukkan perbedaan arah. Harga tembaga tercatat turun 1,44 persen, perak mengalami koreksi cukup dalam sebesar 15,09 persen, sementara emas justru menguat sebesar 1,31 persen. Data ini semakin menegaskan posisi emas sebagai aset defensif yang diminati saat pasar menghadapi tekanan.
Pemerintah menegaskan bahwa penetapan HPE dan HR dilakukan secara terukur dan transparan dengan mengacu pada harga pasar internasional. Untuk komoditas tembaga, acuan harga menggunakan pergerakan di LME. Sementara itu, harga emas dan perak merujuk pada standar yang ditetapkan oleh London Bullion Market Association.
Ketentuan mengenai HPE dan HR tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 375 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar. Keputusan ini ditetapkan pada 27 Februari 2026 dan berlaku efektif untuk periode 1 hingga 14 Maret 2026.
Dalam proses penetapannya, Kemendag tidak bekerja sendiri. Penyusunan HPE dan HR melibatkan koordinasi lintas kementerian, mulai dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Keuangan, hingga Kementerian Perindustrian. Masukan teknis dari Kementerian ESDM menjadi salah satu dasar utama dalam menentukan harga patokan tersebut.
Pemerintah berharap penetapan HPE dan HR yang mencerminkan kondisi pasar global dapat memberikan kepastian bagi pelaku usaha, khususnya eksportir produk pertambangan. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara penerimaan negara dan daya saing ekspor nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Dengan tren pembelian emas oleh bank sentral dunia yang masih berlanjut, harga emas diperkirakan tetap berada dalam tren positif dalam jangka pendek. Namun, pemerintah tetap mengimbau pelaku usaha untuk mencermati dinamika pasar global, pergerakan nilai tukar, serta kebijakan moneter internasional yang berpotensi memengaruhi harga komoditas ke depan. (ant/nsp)
Load more