Rupiah Melemah, Purbaya Tahu Cara Atasi Dalam Dua Hari: Tapi Saya Bukan Bank Sentral
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menilai pelemahan nilai tukar Rupiah saat ini tidak memberi dampak besar terhadap ekonomi nasional.
Ia menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia justru terus menguat sehingga pasar masih percaya terhadap prospek jangka menengah.
“Ini berapa persen Rupiah melemah dibanding sebelumnya? Year to date berapa? 2-3 persen. Anda importir ada kenaikan 2-3 persen, masih bisa dikendalikan enggak? Saya pikir sih masih bisa,” ujar Purbaya di kawasan Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, pelemahan Rupiah yang terjadi tidak sejalan dengan arah fundamental ekonomi, yang terus menunjukkan perbaikan. Hal itu justru menjadi daya tarik tambahan bagi pelaku pasar karena potensi capital gain pada periode pemulihan nilai tukar.
“Tapi yang penting adalah pondasi ekonomi kita arahnya berlawanan dengan nilai tukar pada saat ini. Jadi pondasi ekonomi membaik terus, sementara nilai tukar agak melemah, mungkin sebagian orang takut, tapi saya pikir sih kalau dari market kelihatan sekali kan?” tegasnya.
“Mereka percaya pondasi ekonomi kita baik, dan mungkin juga semakin lemah mereka akan masuk, kenapa? Dia bisa dapat dari capital gain dan forex gain nanti ketika Rupiahnya bergerak searah dengan fundamentalnya,” sambung dia.
Purbaya bahkan menyebut Rupiah saat ini cenderung undervalued dibanding kondisi fundamental. “Jadi dibanding fundamental sekarang Rupiah terlalu lemah,” lanjutnya.
Saat ditanya lebih jauh mengenai faktor penyebab pelemahan Rupiah, Purbaya enggan membeberkan terlalu detail karena hal tersebut menjadi domain Bank Indonesia (BI).
“Kalau Anda tanya ke Bank Sentral deh, saya dipancing-pancing masuk situ terus lagi. Pinter nih dia mancing terus. Nanti gue kelepasan, ribut lagi di luar,” ungkap Purbaya.
“Kalau saya tahu alasannya, saya tahu betul alasannya kenapa, dan cara memperbaikinya dua hari semalam dua malam selesai itu. Tapi saya bukan Bank Sentral. Ngomong gitu aja salah barusan. Udah, Rupiah udah ya, BI aja,” tutupnya. (agr/rpi)
Load more