Pengamat Ungkap Strategi Trump di Balik Konflik dengan Venezuela: Tekan Harga Minyak demi Kendalikan Inflasi
- Istimewa
Namun, produksi tersebut merosot drastis setelah perusahaan-perusahaan AS didepak oleh Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada periode 2015–2017.
“Produksi minyak Venezuela itu terus turun, yang tadinya itu 3,15 juta barrel per day itu menjadi hanya pada tahun 2019 itu sekitar 0,85 juta barrel per day,” kata Yayan.
Ia menyebut Trump kemudian mengklaim kembali hak Amerika atas minyak Venezuela, termasuk dengan mendorong kembalinya lisensi Chevron pada Maret 2025.
“Sehingga dikatakan bahwa oleh Trump, Venezuela itu mengambil minyak Amerika Serikat,” ucapnya.
Ketegangan itu memuncak setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya dan mengeluarkan keduanya dari wilayah Venezuela. Trump mengklaim operasi tersebut dilakukan secara presisi tanpa menimbulkan korban dari pihak AS.
Pemerintah Venezuela pun bereaksi keras. Kementerian Luar Negeri Venezuela mengumumkan akan mengajukan banding ke organisasi internasional dan meminta Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat untuk membahas tindakan Amerika Serikat.
“Hanya ada satu presiden di negara ini, namanya Nicolas Maduro Moros,” kata Wakil Presiden Venezuela.
Situasi di dalam negeri Venezuela turut memanas setelah terjadi ledakan besar di Caracas yang diduga berkaitan dengan operasi pasukan elite AS.
Meski demikian, Yayan menilai konflik tersebut tidak otomatis memicu lonjakan harga minyak global. Pasalnya, produksi minyak Venezuela saat ini relatif kecil, hanya sekitar 0,96 juta barel per hari.
“Karena produksi dari Venezuela itu hanya kurang dari satu juta barrel per hari ya. Hanya 0,96 juta barrel per hari,” ujarnya.
Ia menegaskan, pasar minyak dunia saat ini lebih dikendalikan oleh strategi energi Amerika Serikat ketimbang dinamika politik Venezuela. Bahkan, kebijakan Trump justru terbukti mampu mendorong pertumbuhan ekonomi AS.
“Nah ini yang terlihat pada triwulan tiga kemarin kan? Bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat itu sekitar 4,3 persen,” kata Yayan.
Menurutnya, selama strategi American Energy Dominance dijalankan, arah kebijakan AS akan tetap menekan harga minyak global sebagai alat utama mengendalikan inflasi dan menjaga momentum ekonomi domestik. (agr/rpi)
Load more