Menjelang Imlek, Umat Konghucu Ikuti Ritual Cisuak di Boen Bio
- tvOne - sandi irwanto
Surabaya, tvOnenews.com – Menyambut perayaan Imlek, umat Konghucu di Surabaya menjalani sebuah ritual penuh makna. Bukan sekadar tradisi, cisuak menjadi cara mensucikan diri, menata pikiran, dan menolak energi negatif sepanjang tahun Kuda Api ini.
Ibadah cisuak di Kelenteng Boen Bio Surabaya, Kamis (12/02/2026) pagi, diikuti ratusan umat Konghucu yang mengikuti upacara menjelang Tahun Baru Imlek ini, khususnya mereka yang bershio viong atau dinilai kurang selaras dengan tahun kelahirannya. Imlek 2577 Kongzili atau tahun 2026 Masehi dikenal sebagai tahun Kuda Api.
Cisuak digelar sebagai sarana untuk mencegah sekaligus meminimalisir energi negatif yang dipercaya dapat menghampiri sepanjang tahun. Namun, cisuak sejatinya tak hanya untuk mereka yang ciong. Ritual ini terbuka bagi siapa saja sebagai upaya memperkuat mindset dan menata batin.
Lian Marina Margaretha, warga Kediri, menjadi salah satu peserta cisuak. Jauh dari Kediri, ia datang dengan satu tujuan, meruwat diri dan memohon kehidupan yang lebih baik ke depannya.
“Kedatangan saya di klenteng Boen. Bio ini memang untuk dicisuak Dengan harapan kedepannya nanti bisa berjalan lebih baik. Semuanya bisa berjalan lancar, energi yang datang selalu yang positif bukan hal yang negatif,“ ujar Lian Marina penuh harap.
Liem Tiong Yang, rohaniawan Klenteng Boen Bio Surabaya, mengatakan setelah ikut cisuak, para umat bisa menumbuhkan pikiran positif dalam diri. “Sebelum ritual dimulai, para peserta menuliskan harapan dan doa di atas kertas khusus. Potongan kuku, rambut, serta benang dengan warna sesuai unsur shio atau tahun kelahiran, ikut dimasukkan sebagai simbol melepas hal buruk,“ paparnya.
“Cisuak itu sarana tolak bala, dalam tradisi Jawa mirip seperti ruwat, dan boleh diikuti semua orang untuk menumbuhkan mindset positif," imbuhnya.
Usai doa dipanjatkan, para umat berbaris menuju halaman belakang kelenteng. Ember berisi air, bunga mawar, dan melati telah disiapkan. Rohaniawan menciduk air bunga, lalu mengguyurkannya ke tangan umat yang menengadah. Air tersebut digunakan untuk membersihkan wajah, tangan, dan kaki sebagai simbol penyucian diri.
Ritual ditutup dengan pembakaran kertas kim cua berbentuk gunung dan kertas teratai, sebuah persembahan sekaligus harapan agar tahun baru diisi dengan kebaikan, ketenangan, dan pikiran positif. (msi/gol)
Load more