Ajarkan Entrepreneur Leadership, Pondok Pesantren Al Amien Prenduan, Sumenep, Cetak Santri Jadi Penggerak Ekonomi Negeri
- Tim tvone - tim tvone
Sumenep, tvOnenews.com - Pondok Pesantren Al Amien Prenduan menjadi salah satu pesantren terkemuka di Indonesia. Terletak di Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura, pesantren ini dirintis pertama kali oleh KH Achmad Khotib pada tahun 1899 dengan mendirikan sebuah surau kecil yang dikenal dengan istilah congkop.Â
Periode perintisan kedua, dilanjutkan oleh putra KH Achmad Khotib bernama KH Ahmad Jauhari pada tahun 1930 dengan mendirikan pondok sederhana di atas sepetak lahan sempit dan gersang yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Tegal.
Secara resmi, Pondok Pesantren Al Amien Prenduan dinyatakan berdiri pada tahun 1952. Pada tahun 1971 kepemimpinan pesantren dialih generasikan kepada dua putra pendiri awal yaitu KH Moh Tijani Jauhari dan KH Muhammad Idris Jauhari, yang kemudian dikembangkan bersama kiai yang lain.Â
Pondok Pesantren Al Amien Prenduan adalah lembaga yang independen dan netral dengan prinsip berdiri di atas dan untuk semua kalangan, tidak berafiliasi dengan suatu golongan atau partai politik apapun.Â
Memiliki visi mengimplementasikan kewajiban ibadah kepada Allah SWT dan tugas "khilafah" di bumi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Amien Prenduan ingin para santri memiliki sifat dan sikap proaktif, inovatif, kreatif dan eksploratif dalam berbagai aspek kehidupan, seperti yang tertulis dalam Surah Al Baqarah ayat 30.
Pengasuh PP Al Amien Prenduan, KH Ahmad Fauzi Tidjani ingin menciptakan generasi-generasi pemimpin, tidak hanya sebagai ulama, namun juga sebagai pebisnis untuk membantu menggerakkan roda ekonomi negeri.
"Kami ingin mencetak entrepreneur leader, jadi ketika lulus tidak hanya bekerja di pertokoan, tapi juga pemilik toko, tidak hanya bekerja sebagai petani, tapi juga pengusaha beras. Sehingga kami didik untuk menjadi pemimpin," ujarnya kepada tim tvOnenews.com, Kamis (12/6).
Untuk mewujudkan hal tersebut, Pondok Pesantren Al Amien Prenduan memiliki program santripreneur dan pesantrenpreneur dengan mendirikan lebih dari 46 unit usaha. Beberapa diantaranya ialah peternakan ayam ras petelur, bariklana bakery, mie bariklana, AMKD bariklana, unit beras, tahu tempe dan lain sebagainya.
Pengelolaan unit-unit usaha ini melibatkan para pengurus, alumni, hingga santri pesantren. Mulai dari pembuatan hingga pendistribusian barang, sehingga ini menjadi wadah para santri belajar berwirausaha.
Unit-unit usaha yang bergerak di bidang pangan ini hasilnya akan dikonsumsi oleh seluruh civitas akademika pondok pesantren sehingga PP Al Amien tidak lagi bergantung dari pasokan luar pesantren. Selain itu, sebagian besar hasil produksi juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Salah satu unit usaha yang hasilnya bisa diolah dan dimanfaatkan kembali menjadi produk turunan adalah peternakan ayam ras petelur. Unit usaha ini didirikan usai pengajuan pembangunan unit usaha ternak disetujui oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur. Tak hanya berupa pendanaan kandang ternak, bekal pelatihan untuk berternak juga diberikan melalui tenaga profesional, agar Pondok Pesantren Al Amien mampu mengelola unit usaha ini secara mandiri.
"Setelah adanya peternakan ayam ras petelur, telur-telur hasil peternakan tidak hanya dikonsumsi santri dan masyarakat, tapi kami jadikan bahan baku untuk pembuatan roti di bariklana bakery. Nah hasil keuntungan bariklana bakery sebanyak 900 roti per hari ini masuk lagi ke pondok pesantren," ujar Ustaz Nur Hasan, penanggung jawab unit ekonomi pondok pesantren.
Kepala Divisi Biro Ekonomi dan Sarana, Ustaz Afandi menyebut, akan berupaya mengembangkan unit-unit usaha di Ponpes Al Amien agar produktivitas meningkat namun dengan tetap menjamin kualitas produk.Â
"Untuk ayam petelur, ke depan kita harus menyiapkan pasokan pakan yang murah, untuk itu diperlukan ketersediaan jagung dan dedak sebagai pakan penunjang selain konsentrat pabrikan," tambahnya.
Selisih biaya pakan ternak pabrikan dengan penggunaan alat untuk pencampur pakan ternak sebesar Rp1500 per kilogram. Jika dalam sehari membutuhkan 200 kilogram pakan ternak, maka dengan penggunaan alat pencampur pakan ternak, pesantren mampu menghemat biaya hingga Rp300 ribu per hari dan Rp9 juta per bulan.
Selain itu, pengoptimalan lahan-lahan pondok yang tidur ataupun kurang produktif akan dimanfaatkan untuk penanaman jagung. Sementara untuk meningkatkan produksi beras, Pondok Pesantren Al Amien mengupayakan untuk membeli alat penggiling padi.
"Kita harus memiliki penggilangan padi, gabah kita beli dari petani, kita giling, dedak untuk ayam petelur dan beras untuk dapur santri," jelas Ustad Afandi.
Ia juga menyebut, pengoptimalan unit usaha di bidang pangan akan sangat membantu kemandirian perekonomian pondok pesantrenÂ
"Lewat unit-unit usaha ini kami tidak hanya bisa menghemat biaya pengeluaran konsumsi harian santri, tetapi juga bisa membantu kemandirian perekonomian pondok pesantren dan memberdayakan masyarakat sekitar," ujar Ustad Afandi, Kepala Divisi Biro Ekonomi dan Sarana. (far)
Load more