Cerita Pilu Warga Tayu Pati Rumahnya Ambrol Diterjang Banjir, Gendong Ibu Susuri Tanggul saat Air Bah Datang
- tvOnenews.com/Rilo Pambudi
Pati, tvOnenews.com - Hujan turun tanpa jeda di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Jumat (9/1/2026) malam. Langit gelap seolah tak memberi tanda kapan air akan berhenti, juga disertai dengan angin kencang.
Sungai-sungai mulai mengirimkan ancaman dari hulu yang ada di Pegunungan Muria bagian utara. Air cokelat pekat yang datang tiba-tiba, mengalir deras, dan tanpa kompromi.
Di Kecamatan Tayu, terutama kampung pesisir Desa Sambiroto, malam itu berubah menjadi kepanikan. Luapan Sungai Tayu merangsek cepat, membuat warga berhamburan. Air datang bersamaan dengan pasang laut, menjadikan desa nelayan itu seperti mangkuk yang penuh meluap.
Di atas tanggul bantaran sungai, Ainun Najib (27) awalnya tak menyangka malam itu nasib apes akan menimpa hidupnya. Ia sedang membantu kakaknya berjualan kopi di warung kecil di tepi tanggul.
Sekira pukul 20.00 WIB, air sungai yang tepat berada di depan rumahnya mulai naik. Perahu-perahu nelayan terangkat, mendekati puncak tanggul, bergesekan satu sama lain seperti memberi peringatan.
Saat tim tvOnenews.com berada di lokasi malam itu, suasana memang sangat mencekam. Arus sungai menggerus tanggul, tanah padat di beberapa sudut mulai terkelupas perlahan.
Air cokelat pekat merembes deras masuk ke warung Ainun. Rasa resah berubah menjadi panik ketika sirine darurat banjir di sekitar TPI Sambiroto dibunyikan. Warga berlari, suara teriakan bercampur gemuruh air banjir dan air hujan.
Tim tvOnenews.com yang berada di sana nyaris terjebak air bah yang terus datang, sebelum akhirnya menyelamatkan diri dari kedai milik Ainun. Dalam hitungan menit, kawasan itu tak lagi aman untuk siapa pun.
Di tengah kekacauan itu, Ainun belum tahu bahwa rumahnya yang berdiri di ujung desa pesisir, tepat di atas tanggul, sedang perlahan kehilangan pijakan. Ia hanya fokus pada satu hal, menyelamatkan keluarga.
"Semalam saya tidak sadar kalau rumah mulai jebol dalamnya. Karena kami panik, saya menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan bersama kakak," cerita Ainun.
Ketakutan terbesarnya bukan kehilangan harta, melainkan keselamatan ibunya. "Yang saya pikirkan pertama adalah ibu saya. Ibu saya gandeng keluar rumah, lalu saya gendong menerjang derasnya banjir air sungai yang meluber melampaui tinggi tanggul," tuturnya pilu.
- tvOnenews.com/Rilo Pambudi
Air terus naik. Di atas tanggul, ketinggian banjir sudah mencapai setengah meter, itu belum di bawahnya. Tambak-tambak mulai jebol.
Ainun melangkah perlahan, menahan tubuh ibunya, melawan arus yang bisa menyeret siapa saja ke laut.
"Di atas tanggul sendiri, ketinggian sudah setengah meter, saya berjalan sambil menggendong ibu saya menyusuri tanggul sembari menahan kuatnya terjangan air bah. Mencekam, jika kepleset saja, kami bisa langsung hanyut ke laut," tambahnya.
Di sekelilingnya, perjuangan juga ada perjuangan-perjuangan lain. Para nelayan bertaruh nyawa menahan perahu agar tak hanyut. Di bawah tanggul, rumah-rumah mulai tenggelam. Warga berlarian, sebagian mencari perlindungan di masjid.
"Saya melihat para nelayan berjibaku menahan perahunya untuk diikat kuat-kuat. Sebagian warga di bawah tanggul, rumahnya sudah mulai terendam. Banyak yang berhamburan menyelamatkan diri di Masjid."
Ainun dan kakaknya akhirnya membawa sang ibu ke rumah paman yang posisinya lebih tinggi. Malam itu mereka selamat, meski tanpa kepastian apa yang tersisa.
Banjir itu tak lama, hanya beberapa jam karena kampung ini memang berada dekat hilir sungai. Air yang mengalir deras langsung tumpah ke laut. Setelah air surut, kenyataan pahit terungkap.
- tvOnenews.com/Rilo Pambudi
Rumah Ainun di ujung Desa Sambiroto itu ambrol. Pondasinya jebol, tanah di bawahnya longsor diterjang banjir. Perabotan, pakaian, dan barang-barang lainnya termasuk motor kesayangannya porak-poranda.
Sungai Tayu yang juga sering dinamai sebagai Sungai Silugonggo kembali tenang, Ainun berdiri menatap puing-puing di dalam rumahnya.
Rumah yang belum lama dibangunnya itu rusak berat. Tapi ia masih menggenggam satu hal yang paling berharga, keluarganya selamat. Di desa pesisir itu, banjir tak hanya membawa air, tetapi juga cerita pilu tentang bertahan hidup di tengah amukan alam.
Saat tim tvOnenews.com kembali ke sana esok harinya, lumpur di mana-mana. Air sungai sudah turun, tapi arusnya masih deras. Warga sibuk membersihkan lumpur-lumpur di rumah dan jalan-jalan.
Waspada Banjir Susulan!
Kepala Desa Sambiroto, Sulistyo, menyampaikan bahwa kondisi desa saat ini telah berangsur normal, meski dampak banjir masih menyisakan kerusakan di sejumlah titik.
"Sekarang saat ini sudah aman, tapi kalau tadi malam ya mencekam. Di desa ini yang paling parah dua RT, karena berada di tepi sungai," kata Sulistyo, Sabtu (10/1/2026).
Debit air sungai meningkat drastis akibat hujan lebat yang tidak hanya terjadi di wilayah hilir, tetapi juga di kawasan hulu Pegunungan Muria.
Ia menjelaskan, pada saat banjir terjadi warga berupaya menyelamatkan diri dan harta benda sebisanya dengan mencari lokasi yang lebih tinggi.
"Sementara mengamankan apa yang bisa diamankan, warga semalam mengungsi di sekitar lingkungan masjid dan rumah-rumah yang pondasinya lebih tinggi," imbuhnya.
- tvOnenews.com/Rilo Pambudi
Meski tak ada korban jiwa, banjir bandang mengakibatkan kerugian material bagi warga, khususnya bagi para nelayan.
"Korban jiwa tidak ada, tapi ada dua rumah yang jebol (termasuk rumah Ainun) dan empat perahu yang terbalik beserta alat-alat tangkap yang semuanya hilang terbawa banjir," jelasnya.
Hingga berita ini tayang, hujan masih mengguyur wilayah Pati bagian utara dengan sangat deras, disertai gemuruh guntur dan angin lebat. Informasi yang diterima, ada 9 kecamatan di Kabupaten Pati juga diterjang banjir.
Kapolsek Tayu AKP Aris Pristianto memastikan aparat gabungan terus melakukan pemantauan dan pengamanan pascabanjir guna mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.
Pasalnya, sampai saat ini wilayah Pati bagian utara masih diguyur hujan sehingga seluruh warga diminta untuk terus waspada.
"Kami dari Polsek dan rekan-rekan Koramil terus memantau dan memastikan warga dalam kondisi siaga. Tidak ada tanggul yang jebol, namun karena debit air yang tinggi dari pegunungan membuat air sungai meluber ke pemukiman," tutur AKP Aris Pristianto. (rpi)
Load more