Jakarta, tvOnenews.com - Di balik hiruk pikuk ibu kota Jakarta, tersembunyi sebuah kawasan yang dijuluki Kampung zombie.
Julukan itu muncul karena suasana lingkungan yang sepi, suram, dan sebagian besar rumah ditinggalkan penghuninya akibat banjir menahun.
Namun, masih ada segelintir warga yang terpaksa bertahan di tengah ancaman banjir karena keterbatasan ekonomi.
Fenomena banjir di kawasan RT 6/RW 7, Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur sudah berlangsung sejak awal tahun 2000-an.
Akibat banjir tahunan yang kerap merendam hingga setinggi tiang listrik, banyak warga akhirnya memilih hengkang.
Dari sekitar 70 kepala keluarga, kini tersisa hanya 10 keluarga yang masih bertahan.
Mereka bertahan bukan karena keinginan, melainkan karena tidak mampu membeli rumah lain atau menanggung biaya kontrakan.
Salah satu warga menuturkan, pemerintah hanya sebatas memberi perhatian formalitas tanpa tindak lanjut nyata.
Relokasi atau penanggulangan banjir yang diharapkan warga tak kunjung terwujud.
Kondisi rumah-rumah yang telah lama ditinggalkan pun memperlihatkan betapa parahnya dampak banjir.
Lumpur tebal masih membekas di lantai, bahkan air kerap naik hingga lantai dua.
Saat banjir besar melanda, warga biasanya harus mengungsi ke universitas terdekat yang lokasinya sedikit lebih tinggi.
Meski Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengalokasikan anggaran hampir Rp4 triliun untuk penanganan banjir di kawasan Sungai Ciliwung, Kampung Zombie seakan masih terabaikan.
Padahal, menurut pengamat tata kota, pemerintah seharusnya hadir memberi solusi nyata. Baik melalui relokasi, pembangunan turap, maupun program urban regeneration, yakni merevitalisasi kawasan terdampak agar kembali berfungsi.
Kini, Kampung Zombie bukan hanya sekadar kawasan terendam banjir, melainkan juga simbol kegagalan tata kota di ibu kota.