Belum Debut John Herdman Sudah Ketiban Durian Runtuh: Skenario Ajaib yang Bisa Bawa Timnas Indonesia Tampil di Piala Dunia 2026
- instagram Ole Romeny
tvOnenews.com - Asa Timnas Indonesia melaju ke Piala Dunia 2026 bisa kembali hidup lagi? Begini skenarionya bersama John Herdman.
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat mendadak memunculkan harapan liar bagi Timnas Indonesia.
Situasi konflik yang memanas bahkan disebut-sebut bisa berdampak pada partisipasi Iran di Piala Dunia 2026.
Jika skenario ekstrem terjadi dan Iran mundur, apakah skuad Garuda bisa “ketiban durian runtuh” dan mendapat tiket tak terduga ke turnamen akbar tersebut?
Harapan itu memang terdengar seperti mimpi di siang bolong. Apalagi Indonesia sebelumnya gagal melangkah lebih jauh di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di bawah arahan Patrick Kluivert.
Namun dinamika politik global kadang menghadirkan kemungkinan tak terduga. Di tengah persiapan debut John Herdman sebagai nakhoda baru, isu ini ikut menyulut perbincangan hangat di kalangan suporter.
Iran Terancam Absen karena Konflik Politik
Situasi memanas setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Presiden Federasi Sepakbola Iran, Mehdi Taj, mengakui peluang negaranya tampil di Piala Dunia 2026 sangat tipis.
Mengutip Sportbible, Mehdi Taj mengatakan, “Dengan apa yang terjadi hari ini dan dengan serangan dari Amerika Serikat, kecil kemungkinan kami bisa menatap Piala Dunia (2026). Para pejabat olahraga (di Iran) yang harus memutuskan soal itu.”
Pernyataan tersebut muncul setelah eskalasi konflik yang turut mengguncang stabilitas kawasan.
Bahkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia dalam rangkaian serangan tersebut. Iran pun membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Asia Barat.
Ironisnya, seluruh laga fase grup Iran di Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, negara yang kini terlibat konflik langsung dengan mereka.
Tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, Team Melli dijadwalkan tampil di Los Angeles dan Seattle. Kondisi politik yang panas jelas memunculkan kekhawatiran soal keamanan serta isu visa.
Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, saat dimintai tanggapan menyatakan masih terlalu dini memberi komentar detail.
“Kami akan memantau perkembangan terkait semua isu di seluruh dunia. Fokus kami adalah menyelenggarakan Piala Dunia yang aman dengan semua pihak ikut serta,” ujarnya dalam pertemuan IFAB di Wales.
Regulasi FIFA dan Skenario Pengganti
Secara regulasi, FIFA telah mengantisipasi kemungkinan mundurnya peserta. Dalam aturan resmi disebutkan bahwa slot tim yang mundur akan diisi oleh “peserta alternatif yang ditunjuk.
Biasanya runner-up langsung dari play-off kualifikasi terkait atau tim dengan peringkat tertinggi yang belum lolos dari konfederasi tersebut.”
Artinya, jika Iran benar-benar batal tampil, konfederasi Asia (AFC) akan menunjuk kandidat pengganti berdasarkan jalur kualifikasi terakhir.
Nama yang paling kuat mencuat adalah Irak, yang lolos ke playoff antarkonfederasi dan dijadwalkan menghadapi pemenang laga Bolivia versus Suriname pada Maret 2026.
Jika Irak naik menggantikan Iran di fase grup, maka Uni Emirat Arab (UEA) berpeluang mengambil alih slot playoff antarbenua. UEA sebelumnya kalah agregat 2-3 dari Irak di putaran kelima zona Asia.
Dalam kondisi yang lebih ekstrem, jika Irak dan UEA menolak atau terkendala. Oman disebut lebih berpeluang ketimbang Indonesia karena mencatat hasil lebih baik di putaran keempat kualifikasi.
Regulasi juga membuka kemungkinan penyesuaian grup dalam keadaan luar biasa, meski itu opsi terakhir.

- instagram timnas indonesia
Peluang Indonesia dan Momentum Era John Herdman
Lalu di mana posisi Indonesia? Realistisnya, kans Garuda sangat tipis. Indonesia gagal meraih poin di putaran keempat, berbeda dengan Oman yang setidaknya mengoleksi satu angka.
Berdasarkan hierarki performa dan regulasi, Indonesia berada di urutan belakang dalam daftar kandidat.
Meski begitu, isu ini tetap menjadi bahan diskusi menarik di tengah masa transisi kepelatihan. Setelah kegagalan di era Patrick Kluivert, kini publik menanti arah baru di bawah John Herdman.
Pelatih asal Kanada itu diharapkan membawa pendekatan berbeda, terutama dalam aspek mentalitas dan organisasi permainan.
Seandainya skenario tak terduga benar-benar terjadi, Herdman bisa saja memimpin Indonesia dalam panggung terbesar sepak bola dunia, sebuah cerita dramatis yang lahir bukan dari hasil di lapangan, melainkan dari dinamika geopolitik global.
Namun melihat fakta dan regulasi yang ada, Irak tetap menjadi kandidat terkuat pengganti Iran.
Bagi Indonesia, peluang menuju Piala Dunia 2026 secara realistis sudah tertutup. Harapan “durian runtuh” itu ada, tetapi sangat kecil.
Kini fokus paling rasional bagi skuad Garuda adalah membangun fondasi kuat bersama John Herdman, menatap siklus berikutnya, dan memastikan mimpi tampil di Piala Dunia diraih lewat keringat sendiri bukan karena situasi luar biasa di luar lapangan. (udn)
Load more