Tiga Kali lMenang Beruntun di Tangan Carrick, Kenapa MU Tetap Menahan Diri soal Manajer Permanen untuk Setan Merah?
- instagram manutd
tvOnenews.com - Manchester United sedang berada di titik yang jarang mereka rasakan dalam beberapa musim terakhir: menang, percaya diri, dan terlihat tahu apa yang mereka lakukan di lapangan.
Tiga kemenangan beruntun atas Manchester City, Arsenal, dan Fulham membawa Setan Merah naik ke papan atas Liga Premier sekaligus memulihkan optimisme publik Old Trafford.
Michael Carrick berada di pusat kebangkitan itu. Namun di tengah sorotan dan dorongan agar ia segera diangkat sebagai manajer permanen, baik Carrick maupun klub justru memilih satu sikap yang tidak biasa bagi United dalam beberapa tahun terakhir: tetap tenang dan tidak reaktif.
Carrick Mengangkat Performa, Bukan Sekadar Hasil
Melansir dari Sky Sports, sejak mengambil alih tim utama tiga pekan lalu, Carrick langsung memberi dampak nyata. United tampil lebih rapi, lebih disiplin, dan yang terpenting lebih percaya diri saat menghadapi lawan besar.
Kemenangan atas City dan Arsenal bukan sekadar tiga poin, melainkan pesan bahwa United masih punya fondasi kuat.

- instagram Manchester United dan Arsenal
Hasil itu membuat Carrick masuk nominasi Manajer Terbaik Liga Premier bulan Januari. Namun, pelatih berusia 44 tahun itu menolak menjadikan rentetan kemenangan sebagai alat tawar-menawar jabatan.
“Tidak ada yang berubah, jujur saja,” kata Carrick. Ia menegaskan bahwa hasil jangka pendek tidak seharusnya mengubah arah besar klub.
“Hasil dalam jangka waktu singkat tidak mengubah itu. Jika berubah, berarti ada yang salah.”
Belum Saatnya Mengunci Masa Depan Carrick
Di Old Trafford, euforia sering kali berujung pada keputusan cepat. Manchester United pernah mengalami itu, terutama saat menunjuk Ole Gunnar Solskjaer secara permanen setelah efek kejut awal yang positif.
Kali ini, klub tampaknya tidak ingin mengulang kesalahan serupa. Carrick sendiri sadar betul posisinya.
“Kami ingin sukses. Saya ingin klub ini sukses sampai akhir musim entah itu saya atau orang lain,” ujarnya.
Kalimat itu mencerminkan sikap rendah hati sekaligus realistis. Ia tidak meminta jabatan, juga tidak menutup pintu.
United menunjuk Carrick sebagai pelatih interim hingga akhir musim setelah periode Ruben Amorim berakhir dengan konflik.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Carrick memahami kultur klub dan memberi stabilitas, sambil memberi waktu bagi direktur sepak bola Jason Wilcox menjalankan proses pencarian manajer secara menyeluruh.
Pendekatan ini menandai perubahan penting. Manchester United kini mencoba berpikir jangka panjang, bukan sekadar merespons hasil akhir pekan. Analisis serupa disampaikan Paul Merson dari Sky Sports.

- instagram manutd
“Yang dia butuhkan justru mungkin kalah tiga atau empat pertandingan, lalu melihat bagaimana dia merespons,” kata Merson. Menurutnya, tekanan sejati di klub sebesar United muncul saat hasil buruk datang bertubi-tubi.
Merson mengingatkan pengalaman Solskjaer, yang sempat dielu-elukan sebelum akhirnya goyah. “Hanya dari situ Anda benar-benar tahu seberapa bagus seorang manajer,” ujarnya.
Carrick tampaknya memahami itu. Menjelang laga melawan Tottenham, ia menegaskan fokusnya hanya pada pertandingan demi pertandingan.
“Saya menyukai apa yang saya lakukan. Saya di sini. Saya merasa seperti di rumah,” katanya, sebelum menambahkan bahwa ia sepenuhnya paham situasi dan tidak ingin terbawa suasana.
Bagi United, inilah ujian kedewasaan. Carrick telah mengangkat performa tim dan memulihkan arah permainan. Namun klub memilih tidak tergesa-gesa mengunci masa depan.
Setelah bertahun-tahun keputusan impulsif, sikap ini mungkin justru menjadi tanda bahwa Manchester United benar-benar sedang berubah. (udn)
Load more