Masih Ingat Yudi Guntara? Eks Bintang Persib yang Pernah Menyebrang ke Persija Demi Pendidikan
- Media Persib
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat Persib menghadapi PSV Eindhoven yang diperkuat Ruud Gullit.
Meski kalah telak, laga tersebut menjadi pelajaran mental yang sangat berarti.
Namun masalah baru muncul. Yudi membutuhkan biaya untuk melanjutkan kuliah.
Upaya meminta bantuan beasiswa ke manajemen Persib tidak membuahkan hasil.
Justru tawaran datang dari STIE Perbanas Jakarta yang bersedia memberi beasiswa penuh.
Kampus tersebut memiliki keterkaitan dengan Persija Jakarta. Demi masa depan akademik, Yudi dihadapkan pada keputusan sulit.
Pada musim 1989/1990, Yudi akhirnya bergabung dengan Persija. Keputusan itu bukan didorong oleh uang atau ambisi karier, melainkan murni demi pendidikan.
Menariknya, Yudi tidak menerima kontrak maupun gaji dari Persija.
Ia hanya bermain sambil menjalani kuliah. Setiap kali menghadapi Persib, terutama di Stadion Siliwangi, perasaannya campur aduk mendengar reaksi Bobotoh.
Meski demikian, profesionalisme tetap ia jaga. Yudi tampil konsisten dan membantu Persija finis di papan atas kompetisi.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Yudi kembali ke Bandung. Kepulangannya menandai fase terbaik dalam karier sepak bolanya.
Ia menjadi motor serangan Persib dan berperan besar dalam dua gelar prestisius, juara Perserikatan 1993/1994 dan juara Liga Indonesia 1994/1995.
Nama Yudi pun semakin diperhitungkan, bahkan di mata pelatih kelas dunia.
Rinus Michels memberikan pujian setelah Persib menang besar atas Persiraja Banda Aceh.
Sementara Fabio Capello, meski AC Milan menghajar Persib 0-8 pada laga uji coba 1993, tetap menyoroti Yudi sebagai salah satu pemain paling merepotkan berkat pergerakannya yang agresif.
Memasuki 1996, masalah lutut mulai mengganggu. Yudi tak lagi bisa bermain penuh selama 90 menit.
Rasa nyeri datang tanpa benturan keras, akibat akumulasi latihan berat sejak usia belasan tahun yang mengikis bantalan lututnya.
Pada 1999, di usia 28 tahun, Yudi Guntara memutuskan pensiun dari sepak bola profesional.
Selepas gantung sepatu, Yudi menjalani kehidupan baru di dunia perbankan, berbekal gelar sarjana ekonomi yang dulu ia perjuangkan mati-matian.
Meski tak lagi merumput secara profesional, hubungannya dengan dunia sepak bola tak pernah benar-benar putus.
Load more