Apa Itu Tendangan Panenka yang Dilesatkan Brahim Diaz dan Jadi Petaka untuk Maroko di Final AFCON 2025?
- YouTube/beIN SPORTS Indonesia
tvOnenews.com - Dalam dunia sepak bola, tidak ada teknik penalti yang lebih elegan sekaligus berisiko tinggi yang disebut sebagai panenka.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indoesia (KBBI), panenka adalah teknik tendangan penalti dengan cara mencungkil bola secara lembut ke arah tengah gawang, dan biasanya dilakukan untuk mengecoh kiper.
Teknik tersebut mengandalkan asumsi bahwa penjaga gawang akan melompat ke sisi kiri atau kanan.
Jika teknik tersebut digunakan, maka bola justru akan meluncur dari tengah, sehingga tak mungkin dijangkau oleh kiper yang sudah terkecoh untuk melompat ke sisi kiri atau kanannya.
Momen Ikonik Penakluk Dunia
Penyebutan teknik tersebut diambil dari Antonim Panenka, pemain asal Cekoslowakia yang pertama kali memperkenalkannya di final Euro 1976.
Sejak saat itu, panenka menjadi simbol kepercayaan diri tingkat tinggi dan kejeniusan di titik putih.
Sepanjang sejarah, hanya pemain bermental baja yang berani mengeksekusinya di panggung besar.
Zinedine Zidane pernah menaklukkan Gianluigi Buffon di final Piala Dunia 2006 dengan bola yang membentur mistar dalam sebelum masuk ke gawang.
Anda mungkin juga ingat dengan sosok Andrea Pirlo di Euro 2012 yang sukses "menghancurkan" mental kiper Inggris, Joe Hart, dalam laga tersebut.
Bagi para pemain yang berhasil melakukan teknik tersebut, panenka bukan sekadar gol, melainkan cara untuk menjatuhkan martabat lawan di bawah tekanan luar biasa.
Brahim Diaz dan kegagalannya di final AFCON 2025
Namun, teknik ini bak pedang bermata dua. Jika berhasil, maka pemain yang menggunakannya dipuja. Apabila gagal, ia bisa saja menjadi bahan cacian.
Nasib malang itulah yang menimpa bintang Timnas Maroko, Brahim Diaz dalam laga final Piala Afrika (AFCON) 2025 melawan Senegal pada Senin (19/1/2026) dini hari WIB.
Berlaga di hadapan ribuan pendukung fanatiknya, Timnas Maroko mendapatkan peluang emas melalui titik putih di momen krusial.
Brahim Diaz maju sebagai eksekutor dengan beban harapan satu negara di pundaknya. Alih-alih melepaskan tembakan keras, Diaz memilih melakukan tendangan panenka.
Naas, bola cungkilannya terlalu lemah dan terbaca dengan mudah oleh kiper Senegal, Edouard Mendy, yang tetap berdiri kokoh di tengah.
Load more