Ruang Panas Perdebatan di Kolom Komentar
- Freepik
Penulis: Ilham Khalid Setiawan, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina
Disclaimer: Artikel ini telah melalui proses editing yang dipandang perlu sesuai kebijakan redaksi tvOnenews.com. Namun demikian, seluruh isi dan materi artikel opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Sebuah unggahan sederhana di Instagram tentang preferensi makanan misalnya "Es teh manis punya brand X emang juara!" awalnya hanya mendapat komentar biasa seperti "Setuju banget!" atau "Aku sih lebih suka yang tanpa gula".
Tak disangka, satu reply yang menanggapi dengan nada defensif, "Yang bilang tanpa gula berarti anti budaya kita dong?", langsung memicu rantai perdebatan panas.
Ribuan netizen ikut campur, saling serang dengan argumen politik, kesehatan, hingga identitas nasional.
Dalam hitungan hari, topik itu viral, memecah opini publik, dan bahkan memengaruhi citra brand terkait.
Fenomena ini bukan hal baru di era digital akhir 2025 di mana kolom komentar yang seharusnya untuk diskusi ringan sering eskalasi menjadi perdebatan sengit yang menciptakan krisis reputasi atau polarisasi sosial.
Interaksi Sosial Era Modern
Media sosial seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook telah menjadi pusat interaksi masyarakat Indonesia.
Berdasarkan laporan Digital 2025 dari We Are Social dan Meltwater, Indonesia memiliki sekitar 180 juta pengguna media sosial pada awal 2025 dengan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya.
Platform ini dirancang untuk koneksi dan ekspresi, tapi fitur komentar dan reply justru sering menjadi pemicu konflik.
Algoritma yang memprioritaskan engagement tinggi—seperti like, reply, dan share—membuat perdebatan panas cepat naik ke timeline utama mengubah diskusi biasa menjadi arena pertarungan opini yang tak terkendali.
Para ahli komunikasi krisis modern menganalisis dinamika ini melalui Situational Crisis Communication Theory (SCCT), dikembangkan oleh W. Timothy Coombs sejak 2007, dan terus disesuaikan dengan era media sosial.
SCCT, yang sering diintegrasikan dengan model Social-Mediated Crisis Communication, fokus pada bagaimana atribusi tanggung jawab publik terhadap suatu situasi memengaruhi reputasi.
Teori ini membagi krisis menjadi tiga cluster utama:
Victim Cluster: Situasi di mana pihak terkait (individu atau brand) menjadi korban, seperti kesalahpahaman atau serangan tanpa dasar. Tanggung jawab rendah, ancaman reputasi minimal.
Load more